Shalat Magrib dan Isya yang Terlewat Hingga Masuk Subuh
Soal 294: Shalat Magrib dan Isya yang Terlewat Hingga Masuk Subuh
Pertanyaan
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh afwan ustadz… Ketika sadar kami memulai perjalanan melalui pesawat sebelum magrib ketika kami sampai ternyata ta sudah subuh bagaimana cara melakukan shalat magrib dan isya padahal sudah masuk waktu subuh… Mohon pencerahan nya ustadz
Jawaban
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
Jika seseorang tertidur atau tidak sadar selama perjalanan, apalagi naik pesawat sehingga terlewat shalat Magrib dan Isya, lalu baru terbangun ketika waktu Subuh telah masuk, maka kewajibannya adalah mengerjakan shalat yang terlewat tersebut segera setelah sadar. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Barang siapa tertidur dari shalat atau lupa mengerjakannya, maka hendaklah ia mengerjakannya ketika ia ingat, karena tidak ada kaffarah baginya selain itu” (HR. Bukhari dan Muslim). Maka lewatnya waktu tidak menggugurkan kewajiban shalat, dan tidak berdosa jika benar-benar tertidur di luar kemampuan.
Dalam pelaksanaannya, shalat yang terlewat dikerjakan secara tertib, yaitu Magrib terlebih dahulu kemudian Isya, baru setelah itu shalat Subuh. Karena kondisi masih dalam perjalanan, shalat Magrib tetap tiga rakaat, shalat Isya boleh dikerjakan dengan qashar menjadi dua rakaat, sedangkan Subuh dua rakaat seperti biasa. Tidak disyaratkan mengulang adzan, namun boleh melakukan iqamah untuk setiap shalat. Yang paling diperlukan adalah menyegerakan qadha shalat tersebut dan menjaga urutannya.
Adapun shalat wajib di pesawat, maka hendaknya dilakukan semampunya dengan tetap menjaga rukun. Jika memungkinkan, shalat dilakukan dalam keadaan berdiri, karena berdiri adalah rukun shalat wajib. Pada sebagian pesawat, seperti penerbangan internasional jarak jauh, terkadang tersedia ruang di belakang yang memungkinkan shalat berdiri. Jika tidak memungkinkan, maka berdirilah saat takbiratul ihram semampunya, lalu jika tidak mampu berdiri terus, boleh shalat sambil duduk setelahnya. Usahakan menghadap kiblat, dan jika tidak mampu karena keterbatasan ruang atau kondisi pesawat, maka bertakwalah kepada Allah sesuai kemampuan, berdasarkan firman Allah: “Bertakwalah kepada Allah semampu kalian” (QS. At-Taghabun: 16). Kondisi seperti ini sering terjadi dalam perjalanan umrah atau perjalanan jauh dari Saudi ke Indonesia karena perbedaan waktu sekitar empat jam, waktu Saudi dan waktu Indonesia Barat, sehingga waktu Magrib dan Isya terasa cepat berlalu, apalagi jika tertidur di pesawat. Wallahu a’lam. Barakallahufikum
Dijawab oleh: Tim Ilmiah Wahdah Islamiyah Pinrang
Sumber:
islamqa.info/ar
islamweb.com/ar/
binbaz.org.sa/
