Penentuan Lailatul Qadar Jika Terdapat Perbedaan Penetapan Awal dan Akhir Ramadan
Soal 326: Penentuan Lailatul Qadar Jika Terdapat Perbedaan Penetapan Awal dan Akhir Ramadan
Pertanyaan
Jika awal Ramadan berbeda di 2 negeri, bagaimana dengan lailatul qadr? Apakah Lailatul qadar bisa 2 kali dalam 1 bulan Ramdhan?
Jawaban
Lailatul Qadr adalah perkara gaib yang tidak dapat dijangkau oleh akal manusia secara rinci, sebagaimana perkara gaib lainnya yang datang dalam nash. Termasuk di antaranya hadis tentang Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: “Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, lalu berfirman: siapa yang berdoa kepada-Ku maka Aku kabulkan, dan …” (HR. Bukhari dan Muslim). Perkara-perkara seperti ini wajib diimani sebagaimana datangnya, tanpa mempertanyakan bagaimana hakikat turunNya dan tanpa menyerupakanNya dengan makhluk.
Perputaran bumi menyebabkan selalu ada bagian bumi yang sedang mengalami malam, sementara bagian lain mengalami siang. Karena itu, ketika ada hadis tentang turunnya Allah pada sepertiga malam terakhir dan tentang Lailatul Qadr, maka kewajiban seorang mukmin adalah mengimaninya sebagaimana datang dalam dalil, meskipun akal tidak mampu menjangkau rincian waktunya. Kita meyakini bahwa Lailatul Qadr hanya satu kali terjadi dalam bulan Ramadan pada setiap tahunnya, sebagaimana firman Allah bahwa malam tersebut lebih baik dari seribu bulan, dan waktunya hanya di salah satu malam 10 akhir Ramadan berpindah-pindah setiap tahunnya. Ketetapan waktu pastinya adalah dengan ilmu Allah semata.
Kita beribadah dan meyakini Lailatul Qadr sesuai dengan penanggalan Ramadan yang berlaku di negeri masing-masing, tanpa perlu melihat atau menyesuaikan dengan negeri lain, terlebih jika jaraknya jauh sehingga di negeri kita masih siang sementara di negeri lain sudah malam. Hal ini karena syariat mengaitkan ibadah dengan waktu yang dialami oleh mukallaf di tempat tinggalnya, sebagaimana puasa, berbuka, mengikuti terbitnya fajar dan terbenamnya matahari setempat. Perbedaan siang dan malam antarwilayah tidak memengaruhi keabsahan ibadah dan keyakinan terhadap Lailatul Qadr, karena setiap kaum diperintahkan beramal sesuai waktu dan penanggalan yang Allah tetapkan bagi mereka, dan inilah bentuk kemudahan serta keadilan dalam syariat.
Demikian juga mengandung hikmah besar, yaitu agar kaum muslimin bersungguh-sungguh dalam ibadah pada seluruh hari dan malam Ramadan, dan lebih bersungguh-sungguh lagi pada sepuluh malam terakhir, tanpa mencari tanda-tanda lailatul qadr. Nabi ﷺ sendiri ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan, beliau menghidupkan malam, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan ikat pinggangnya (HR. Bukhari dan Muslim), sebagai dorongan agar tidak menyia-nyiakan satu malam pun dari malam-malam yang penuh keutamaan tersebut. Wallahu a’lam. Barakallahufikum
Dijawab oleh: Tim Ilmiah Wahdah Islamiyah Pinrang
Sumber:
islamqa.info/ar
islamweb.com/ar/
binbaz.org.sa/
