DPD Wahdah Islamiyah Pinrang

Ilmu, Amal, Dakwah, Tarbiyah

DPD Wahdah Islamiyah Pinrang

Ilmu, Amal, Dakwah, Tarbiyah

Artikel

Nasihat Seputar Piala Dunia dan Hukum Menonton Bola

Oleh: Ustaz Sayyid Syadly Assagaf, Lc.
Transkrip kajian tadabbur bacaan imam ba’da subuh, 19 Juli 2026

Profil Pemateri

Ustaz Sayyid Syadly Assagaf, Lc. adalah seorang dai lokal dan tokoh agama Islam yang berasal dari Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan.

  • Pendidikan: Merupakan lulusan strata satu (Lc.) dan menempuh pendidikan tingkat Magister (S2) di jurusan Tarikh Islam (Sejarah Islam) di Universitas Qassim, Arab Saudi.
  • Peran di Wahdah Islamiyah: Beliau aktif sebagai dai dan pengurus di Dewan Pengurus Daerah (DPD) Wahdah Islamiyah Pinrang.
  • Aktivitas Dakwah: Sering mengisi kajian rutin (taklim), khutbah, dan berbagai acara keagamaan. Beliau juga menulis berbagai artikel dan khutbah yang diterbitkan di platform dakwah.
  • Sinergi Pemerintah: Beliau pernah mendampingi pengurus Wahdah Islamiyah dalam pertemuan bersama Bupati Pinrang untuk bersilaturahmi dan mensosialisasikan acara nasional.

Terkait dengan sesuatu yang mubah ini jamaah sekalian, yang mubah adalah sesuatu yang tidak mendatangkan pahala namun juga tidak ada dosanya. Dan mubah yang kita mau singgung di sini, sebagaimana janji kami sebelumnya, adalah untuk melanjutkan pembahasan mengenai Piala Dunia.

Piala Dunia, ketika kita memiliki hobi untuk bermain, berolahraga, bermain bola, bertanding dalam turnamen—ataupun bersepeda, menembak, dan lainnya—itu adalah hobi-hobi mubah yang Allah ﷻ berikan keleluasaan bagi kita untuk menghobikannya. Terkadang, hobi itu bisa menjadi sesuatu yang bernilai pahala di sisi Allah ﷻ ketika kita gunakan dengan niat beribadah kepada-Nya.

Niat untuk menguatkan diri beribadah kepada Allah ﷻ, dan niat untuk mempersiapkan diri di jalan-Nya. Sebagaimana firman Allah ﷻ:

وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ
“Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi…” (QS. Al-Anfal: 60)

Dengan berolahraga, kita bisa menjadi pribadi yang kuat. Mukmin yang kuat lebih dicintai dan lebih baik di sisi Allah ﷻ daripada mukmin yang lemah, meskipun pada keduanya terdapat kebaikan masing-masing.

Adab Menonton Sepak Bola

Berkenaan dengan menonton bola, seringkali jadwal pertandingan—seperti perebutan juara maupun final Piala Dunia—berlangsung di larut malam hingga dini hari waktu Indonesia. Bahkan ada di antara kampus ternama yang mengadakan perkumpulan nonton bola bareng yang dicampur dengan salat lail bareng. Hal-hal yang dicampur-adukkan seperti ini sangat disayangkan.

Masalah menonton bola ini pada dasarnya adalah mubah, namun kita perlu menjaga adab-adabnya:

  • Jangan melalaikan kewajiban: Jangan mendahulukan menonton bola di atas kewajiban-kewajiban kita kepada Allah ﷻ, bahkan dari amalan yang sunah sekalipun.
  • Menghindari larangan agama: Jangan sampai nonton bola membuat kita melakukan larangan-larangan Allah ﷻ, bahkan perkara yang makruh sekalipun.
  • Menjaga ketertiban: Bagi yang memang tidak bisa membatasi dirinya dan tetap menonton bola di tengah malam, jangan sampai ketika tim pilihan kita menang, kita berteriak dan mengganggu orang lain yang sedang istirahat. Sebaliknya, ketika tim pilihan dikalahkan, jangan sampai stres, panik, bermusuhan, atau saling bentrok.

Waspada Perjudian dan Kesyirikan

Hindari segala bentuk perjudian dan taruhan tebak skor. Begitu pun waspadai kesyirikan-kesyirikan yang kerap muncul pada momen Piala Dunia.

Beberapa waktu lalu, ada fenomena status media sosial yang memelesetkan ayat Al-Qur’an dengan mengatakan, “Siapakah pemilik kerajaan pada hari ini? Pemiliknya adalah Messi, satu-satunya yang maha mengalahkan.” Subhanallah. Status ini memelesetkan ayat mulia yang seharusnya berbunyi:

لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ ۖ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ
“Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini? Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.” (QS. Ghafir: 16)

Maha Suci Allah ﷻ atas apa yang mereka katakan. Jangan sampai waktu-waktu kita terbuang dan terjerumus ke dalam perkara-perkara kesyirikan serta kemaksiatan seperti ini.

Meneladani Sifat Orang Bertakwa

Sebagai penutup, mari kita mengingat sifat-sifat orang yang bertakwa. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa berdoa kepada Allah ﷻ:

رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali ‘Imran: 16)

Bagi orang-orang yang bertakwa, Allah ﷻ menyiapkan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Sifat-sifat mereka di antaranya disebutkan dalam firman-Nya:

الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ
“(Yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.” (QS. Ali ‘Imran: 17)

Hal ini mengingatkan kita semua untuk bangun lebih cepat dan bersegera. Jangan sampai azan berkumandang baru kita bangun, atau bahkan saat iqamah baru terburu-buru mengambil air wudu.

Bangunlah sebelum subuh. Datanglah lebih cepat ke masjid. Jadilah jamaah yang hadir sebelum azan atau tepat saat azan dikumandangkan. Bersegeralah menuju rumah-rumah-Nya dan berlarilah menuju ampunan Allah ﷻ. Dengan datang lebih awal, kita bisa melaksanakan salat sunah dua rakaat dengan khusyuk, menjawab lantunan azan, memperbanyak zikir, dan tidak terburu-buru dalam menunaikan kewajiban salat yang telah Allah ﷻ tetapkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *