Oleh:
✍️ Dr. Adian Husaini
(Direktur At-Taqwa College, Depok)
Kisah pendidikan para ulama selalu menyimpan pelajaran berharga bagi umat. Salah satunya adalah perjalanan pendidikan Buya Hamka رحمه الله, seorang ulama besar Nusantara yang ilmunya lintas zaman dan karyanya terus dibaca hingga hari ini.
Sebagaimana diungkap Bambang Galih Setiawan dalam buku Perjuangan dan Pemikiran M. Natsir dan Hamka dalam Pendidikan (GIP, 2020), Hamka sejak usia muda telah menempuh jalan pendidikan yang sarat nilai adab, keteladanan, dan kesungguhan dalam menuntut ilmu. Pada usia 16 tahun, ia bahkan telah berguru langsung kepada para tokoh besar Islam di Yogyakarta.
Buya Hamka (1908–1981) bukanlah seorang otodidak dalam arti belajar tanpa guru. Justru sebaliknya, ia menimba ilmu langsung dari para ulama, pemimpin umat, dan tokoh pergerakan Islam. Inilah model pendidikan Islam yang ideal: ilmu yang dibangun di atas adab, dibimbing oleh guru, dan diarahkan untuk kemaslahatan umat.
Ujian Hidup dan Pembentukan Jiwa
Meskipun terlahir dari keluarga ulama—ayahnya adalah Haji Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul)—kehidupan Hamka tidaklah mudah. Orang tuanya berpisah ketika ia berusia 12 tahun. Hubungannya dengan sang ayah pun sempat mengalami ketegangan.
Dalam masa mudanya, Hamka bahkan pergi ke Mekkah tanpa sepengetahuan ayahnya. Sepulang dari sana, ia tidak langsung pulang ke Padang Panjang. Namun atas bujukan kakak iparnya, A.R. Sutan Mansur, ia akhirnya kembali. Sambutan hangat dan penuh kasih dari sang ayah menjadi titik balik penting dalam hidupnya. Sejak saat itu, Hamka mendapatkan kepercayaan dan bimbingan baru, yang kelak mengantarkannya memikul amanah besar dalam dakwah dan perjuangan Muhammadiyah di Sumatera.
Pada usia 21 tahun, Hamka menikah dengan Siti Raham. Kehidupan rumah tangga mereka dijalani dalam kesederhanaan dan kesabaran. Dalam salah satu catatannya, Hamka menuturkan:
“Kami hidup dalam suasana miskin. Sembahyang saja terpaksa berganti-ganti, karena di rumah hanya ada sehelai kain sarung. Tapi Ummi kalian adalah perempuan yang setia, tidak pernah menuntut di luar kemampuan ayah.”
Dari pernikahan ini, Hamka dikaruniai 12 orang anak, yang dibesarkan dengan nilai iman, ilmu, dan keteladanan.
Dari Anak yang Liar Menuju Penuntut Ilmu
Semasa kecil, Hamka dikenal sebagai anak yang sulit diatur. Ia sering membolos mengaji, gemar berkelahi, dan lebih tertarik menonton film di bioskop. Bahkan pernah ia tidak masuk sekolah selama 15 hari tanpa sepengetahuan ayahnya, hingga gurunya datang langsung melapor.
Namun di balik kenakalannya, Allah menanamkan potensi kepemimpinan dan keberanian dalam dirinya. Atas keinginan sang ayah, Hamka kemudian diarahkan untuk menempuh pendidikan agama secara serius.
Ia belajar di Sekolah Diniyah dan Madrasah Tawalib di Padang Panjang. Di sinilah Hamka mendalami ilmu-ilmu dasar Islam: nahwu, sharaf, fikih, hadis, dan bahasa Arab. Materi pelajaran di Madrasah Tawalib pada masa itu sangat tinggi mutunya, bahkan setara dengan pendidikan perguruan tinggi.
Cinta Ilmu dan Tradisi Membaca
Selain pendidikan formal, Hamka juga mengembangkan dirinya melalui membaca. Ia belajar bahasa Inggris kepada Sutan Marajo dan hampir setiap hari mengunjungi Perpustakaan Zainaro. Di tempat inilah kecintaannya terhadap buku dan ilmu pengetahuan semakin tumbuh.
Tradisi membaca dan belajar mandiri ini kelak menjadikan Hamka seorang ulama yang luas wawasannya, mampu berdialog dengan pemikiran Barat, sekaligus kokoh dalam akidah Islam.
Menimba Ilmu dari Ulama dan Tokoh Pergerakan
Pada tahun 1924, Hamka berangkat ke Jawa. Di Yogyakarta, ia merasakan perubahan besar dalam cara pandangnya terhadap Islam. Ia menyadari bahwa selama ini dirinya baru mempelajari hukum dan kaidah, tetapi belum sepenuhnya memahami ruh Islam dalam kehidupan.
Hamka mengikuti kajian tafsir di rumah Ki Bagus Hadikusumo, belajar dari Tafsir Baidhawi, serta aktif di lingkungan Syarikat Islam. Di sana ia berguru kepada tokoh-tokoh besar seperti H.O.S. Cokroaminoto, R.M. Suryopranoto, dan H. Fakhruddin.
Ia juga menyaksikan langsung semangat kebangkitan umat Islam, ikut dalam peringatan Maulid Nabi dengan puluhan ribu peserta, serta hadir dalam rapat pendirian Jong Islamieten Bond. Semua pengalaman ini membentuk kesadaran dakwah dan perjuangan dalam dirinya.
Tahun berikutnya, Hamka tinggal di Pekalongan bersama A.R. Sutan Mansur. Di bawah bimbingan tokoh Muhammadiyah ini, kepribadian Hamka semakin matang. Ia mulai tampil sebagai dai muda yang berani, lugas, dan berpandangan luas.
Pelajaran Penting bagi Dunia Pendidikan
Dari perjalanan pendidikan Buya Hamka, kita belajar bahwa kualitas pendidikan tidak ditentukan oleh formalitas semata, tetapi oleh isi, adab, guru, dan tujuan ilmu tersebut. Hamka tumbuh menjadi ulama besar karena ia belajar kepada guru-guru yang lurus akidahnya, kuat adabnya, dan jelas arah dakwahnya.
Inilah pelajaran penting bagi umat Islam hari ini:
pendidikan harus melahirkan manusia beriman, berilmu, dan beramal; bukan sekadar mengejar gelar atau gengsi institusi.
Semoga kisah Buya Hamka menjadi inspirasi bagi para penuntut ilmu, pendidik, dan orang tua dalam membangun generasi yang berilmu dan bertakwa.
(Depok, 25 Juni 2020)






Leave a Reply