Jeritan Langit untuk Al-Aqsa: Penampilan Memukau Umar Al Faruq di Seminar Al-Qur’an Wahdah Pinrang

PINRANG – Sebuah penampilan yang menggetarkan hati tersaji dalam perhelatan Seminar Al-Qur’an dan Tasyakuran Dirosa yang digelar oleh DPD Wahdah Islamiyah Pinrang. Umar Al Faruq, sosok pemuda inspirator Wahdah Islamiyah, membawakan sebuah puisi bertajuk “Di Antara Mushaf dan Al-Aqsa”.

Bait-bait yang dilantunkan bukan sekadar susunan kata indah, melainkan sebuah refleksi mendalam tentang keterikatan suci antara Kitabullah dan tanah para Nabi yang kini sedang terluka. Puisi ini mengingatkan kita bahwa Al-Qur’an turun bukan hanya untuk dibaca lisan, melainkan untuk dihidupkan sebagai napas perjuangan pembebasan Al-Aqsa.

Sebagaimana Allah ﷻ telah menautkan Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa dalam peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ, demikian pula iman seorang muslim tak boleh terpisah dari kepedulian terhadap Palestina.

Bagi Anda yang ingin meresapi kembali makna perjuangan tersebut, berikut adalah transkrip lengkap puisi yang dibacakan oleh Umar Al Faruq:

Di Antara Mushaf dan Al-Aqsa

oleh: Umar Al Faruq (Pemuda Inspirator Wahdah Islamiyah)

Al-Qur’an… Turun bukan sekedar ayat yang dilafalkan di bibir yang lelah. Namun ia adalah jeritan langit, Yang memanggil hati yang telah lama terdiam dan pasrah.

Ia datang membawa cahaya, Untuk jiwa yang retak oleh dosa dan luka sejarah. Menyusun kembali makna hidup yang hancur, Oleh lupa dan gairah.

Di lembar-lembar sucinya, Terpatri jejak para Nabi yang bersujud penuh air mata. Doa-doa yang panjang yang tak pernah putus, Di tanah yang Allah ﷻ muliakan sejak mula.

Dan di sanalah, Al-Aqsa berdiri. Sunyi, namun tetap setia. Menunggu umat terakhir yang dahulu berjanji menjaga amanahnya.

Dari Masjidil Haram, Rasulullah ﷺ diangkat. Menembus langit malam paling agung menuju Al-Aqsa. Seakan Allah ﷻ berkata: “Iman dan tanah ini tidak boleh terputus, tak boleh terkurung.”

Namun hari ini… Ayat-ayat sering dibaca tanpa getar dan tanpa adab. Sementara Al-Aqsa menahan tangis, Di bawah kaki para penjajah yang pongah dan angkuh.

Wahai Al-Qur’an, Engkau masih kami baca, namun sering tak kami bela. Engkau hias di rak tinggi, Namun tak kami hidupkan dalam sikap dan arah langkah nyata.

Maka jangan heran bila Al-Aqsa terasa jauh, Dan lukanya kian membara. Karena ayat-ayatmu telah lama kami pisahkan, Dari keberanian dan keberpihakan yang semestinya ada.

Namun, harapan belum mati. Sebab Al-Qur’an tak pernah berubah dan lelah. Ia tetap memanggil umat ini untuk bangkit, Walau tertatih, walau berdarah.

Al-Aqsa tetap bersujud dalam sabar. Menggenggam janji Allah ﷻ dengan pasrah. Menunggu generasi yang akan kembali hidup bersama wahyu, Bukan sekedar menghafal tanpa arah.

Kelak, ketika mushaf tak hanya dibaca, Tetapi diperjuangkan dengan air mata dan nyawa. Ketika ayat tak hanya didengar, Tetapi ditegakkan di jalan yang penuh risiko dan duka.

Maka Al-Aqsa akan tersenyum, Dalam sujud syukur yang telah lama ia tahan di dada. Karena pembebasan sejati selalu lahir dari Al-Qur’an, Yang benar-benar dihidupkan oleh pembacanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *