DPD Wahdah Islamiyah Pinrang

Ilmu, Amal, Dakwah, Tarbiyah

DPD Wahdah Islamiyah Pinrang

Ilmu, Amal, Dakwah, Tarbiyah

AkhlaqArtikelIbadah

Musyawarah: Bukan Tentang Pendapat, Tapi Tentang Taat

Pernahkah kita merasa langkah kaki begitu berat menuju ruang musyawarah? Padahal, undangan sudah di tangan, waktu sudah ditentukan, dan kepentingan umat sudah menanti. Seringkali kita berdalih pada kesibukan yang menghimpit atau agenda pribadi yang dianggap lebih mendesak. Namun, benarkah waktu kita yang sempit, atau jangan-jangan iman kita yang sedang melemah?

Bukan Sekadar Rapat, Tapi Jalan Taat

Seorang ustadz senior pernah mengingatkan dengan kalimat yang menggetarkan: “Mengapa ada pengurus yang merasa berat menghadiri musyawarah? Bukankah musyawarah termasuk ibadah yang dalilnya jelas?”

Kalimat ini adalah tamparan lembut bagi kita semua. Dalam kacamata seorang mukmin, musyawarah bukanlah sekadar formalitas organisasi atau debat kusir mencari pemenang. Musyawarah adalah karakter dasar orang beriman.

“Dan (bagi) orang-orang yang urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka.” (QS. Asy-Syura: 38)

Ayat ini menempatkan musyawarah sejajar dengan sifat-sifat mulia lainnya. Ini bukan sekadar pilihan, melainkan identitas.

Meneladani Sang Pimpinan Agung

Jika kita merasa sudah cukup pintar untuk memutuskan sendiri, lihatlah Rasulullah ﷺ. Beliau adalah manusia yang menerima wahyu, dibimbing langsung oleh Allah, namun Abu Hurairah رضي الله عنه bersaksi:

“Aku tidak pernah melihat seseorang yang paling banyak bermusyawarah dengan sahabatnya melebihi Rasulullah ﷺ.” (HR. At-Tirmidzi)

Jika kekasih Allah saja masih duduk melingkar mendengarkan pendapat para sahabatnya, lantas siapa kita yang merasa lebih hebat sehingga enggan meluangkan waktu untuk duduk bersama saudara seiman?

Diammu Pun Menjadi Pahala

Ada satu jebakan setan yang sering membuat pengurus enggan hadir: “Ah, saya di sana juga hanya diam, tidak punya pendapat, lebih baik tidak datang.”

Ini adalah kekeliruan besar. Dalam dakwah, kehadiran fisik adalah bentuk dukungan moral (i’dad). Datang, duduk, dan menyimak dengan niat menjaga amanah sudah tercatat sebagai amal saleh. Musyawarah adalah tentang menjaga kebersamaan, bukan sekadar adu kecerdasan.

Dakwah Bukan Soal Perasaan, Tapi Ketaatan

Dakwah tidak bisa ditegakkan hanya dengan perasaan “mood” atau “tidak mood”. Dakwah tegak di atas pilar ketaatan. Ketika panggilan musyawarah datang, ia adalah panggilan tugas dari langit melalui perantara saudara kita di bumi.

Mari kita renungkan kembali:

 * Apakah kita hadir karena ingin pendapat kita diterima? (Itu ego).

 * Ataukah kita hadir karena Allah memerintahkannya? (Itu ketaatan).

Jika hari ini langkahmu masih terasa berat, bisikkanlah pada hati: “Aku hadir bukan karena aku punya banyak waktu, tapi karena aku ingin imanku tetap terjaga dalam ketaatan.”

Karena pada akhirnya, musyawarah adalah cara kita menjaga amanah, sebelum kelak kita dimintai pertanggungjawaban atas setiap urusan yang kita emban.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *