DPD Wahdah Islamiyah Pinrang

Ilmu, Amal, Dakwah, Tarbiyah

DPD Wahdah Islamiyah Pinrang

Ilmu, Amal, Dakwah, Tarbiyah

Artikel

Hukum Terjatuh dalam Maksiat Saat Puasa Ramadan

Soal 130: Hukum Terjatuh dalam Maksiat Saat Puasa Ramadan

Pertanyaan

Bismillah Afwan ustadz ada pertanyaan dari salah satu hamba Allah Yaitu Bagaimana jikalau dalam bulan Ramadhan ini kita terjatuh dalam maksiat kepada Allah sedangkan kita sedang berpuasa ustadz? Apakah puasa kita batal ustadz? Apakah ada doa agar kita tidak terjatuh dalam maksiat kepada Allah ustadz? Mohon pencerahannya ustadz

Jawaban

Jika seseorang sedang berpuasa lalu terjatuh dalam maksiat (seperti ghibah, dusta, memandang yang haram, berkata kotor, zalim, dan semisalnya), maka puasanya pada asalnya tidak batal selama tidak melakukan pembatal puasa yang jelas (makan, minum, jima’, dan yang sejenisnya). Namun maksiat itu mengurangi pahala puasa, “melukai” kualitasnya, dan bisa jadi membuat orang hanya mendapatkan lapar dan haus. Nabi ﷺ bersabda: “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari).

Karena itu, jika terjatuh dalam maksiat di siang Ramadan: segera bertaubat dengan taubat yang jujur (berhenti saat itu juga, menyesal, bertekad tidak mengulang), perbanyak istighfar, dan jauhkan sebab yang menyeret ke dosa (menutup pintu fitnah, menjaga pandangan, menahan lisan, mengurangi hal yang memancing syahwat/amarah). Puasa itu bukan sekadar menahan makan-minum, tapi juga menahan anggota badan dari yang Allah haramkan; dan jika ada yang memancing emosi/pertengkaran, ingat tuntunan Nabi ﷺ: “Jika hari puasa salah seorang dari kalian, jangan berkata kotor dan jangan berteriak-teriak; jika ada yang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, hendaknya mengatakan: ‘Aku sedang berpuasa’.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Doa agar dijaga dari maksiat:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الْأَخْلَاقِ وَالْأَعْمَالِ وَالْأَهْوَاءِ
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari akhlak yang buruk, amal yang buruk, dan hawa nafsu yang menyesatkan. (HR. Tirmidzi, hasan).
Juga doa memohon ampun yang diajarkan Nabi ﷺ:
اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنِي، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Ya Allah, sungguh aku banyak menzalimi diriku, dan tidak ada yang mengampuni dosa selain Engkau; maka ampunilah aku dan rahmatilah aku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (HR. Bukhari dan Muslim).

Barakallahufikum. Wallahu a’lam

Dijawab oleh: Tim Ilmiah Wahdah Islamiyah Pinrang
Sumber:
islamqa.info/ar
islamweb.com/ar/
binbaz.org.sa/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *