Pandangan Islam Perayaan Ulang Tahun Meskipun Tanpa Tiup Lilin dan Semacamnya
Soal 380: Pandangan Islam Perayaan Ulang Tahun Meskipun Tanpa Tiup Lilin dan Semacamnya
Pertanyaan
Bisaji kah ustazah klw hari jadi bwt berbagi sj g usah tiup2 lilin
Afwan ustdz izin bertanya perihal ulang tahun 🙏🏻
Jawaban
Apa yang hendak dirayakan dari ulang tahun? Apakah kita ingin merayakan usia yang semakin berkurang dan ajal yang semakin dekat? Seharusnya, yang dilakukan adalah memperbanyak taubat dan istigfar atas apa yang telah kita lakukan di tahun-tahun yang telah berlalu, serta semakin mendekatkan diri kepada Allah dan berhati-hati agar tidak terjatuh dalam hal-hal yang dimurkai-Nya. Semoga Allah mengampuni kita semua atas segala yang telah kita lakukan selama ini, dan membimbing kita agar senantiasa berada dalam ketaatan kepada-Nya di sisa usia yang ada di dunia ini.
Dalam Islam, hari jadi atau ulang tahun tidak dijadikan momen khusus untuk dirayakan apalagi berkaitan dengan penanggalan masehi. Meskipun penanggalan hijriah digunakan, tidak ada riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi ﷺ, para sahabat, atau generasi salaf setelah mereka memperingati hari kelahiran setiap tahun, walaupun tanpa tiup lilin dan semacamnya. Bahkan sekadar berbagi hadiah, sedekah, atau membuat momen khusus untuk tujuan hari jadi tetap termasuk bentuk peringatan yang tidak dikenal pada masa awal Islam. Nabi ﷺ bersabda: “Barang siapa mengada-adakan sesuatu dalam urusan (agama) kami yang bukan darinya, maka ia tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim). Karena itu, menjauhi kebiasaan ini lebih sesuai dengan prinsip menjaga kemurnian syariat dan tidak menambah bentuk perayaan yang tidak memiliki dasar.
Secara sejarah, tradisi ulang tahun berasal dari budaya bangsa-bangsa non‑Muslim seperti Mesir kuno, Yunani kuno, dan Romawi kuno. Mereka menganggap hari kelahiran terkait kekuatan spiritual, roh pelindung, atau simbol keberuntungan. Romawi kemudian menjadikannya tradisi sosial tahunan, yang kemudian meluas ke berbagai budaya lain. Ketika tradisi ini dipraktikkan secara tahunan oleh umat Islam, hal itu dapat menyerupai ritual keagamaan yang dikaitkan doa panjang berkah umur, dan sedekah berbagi atas kesyukuran. Bahkan bila dilakukan tanpa unsur ritual seperti tiup lilin, pemberian kue, atau pesta, tetap saja menetapkan satu hari tertentu setiap tahun sebagai “hari spesial” merupakan bentuk peringatan tradisi yang berhubungan dengan agama.
Dari sisi logika, sosial, dan ilmiah, terdapat banyak alasan untuk tidak menjadikan ulang tahun sebagai perayaan. Secara psikologis, budaya ulang tahun modern dapat menumbuhkan fokus berlebihan pada diri sendiri (self‑centered), dan penelitian menunjukkan bahwa perayaan yang terlalu terpusat pada individu dapat meningkatkan kecenderungan narsistik. Dari sisi sosial-ekonomi, industri ulang tahun merupakan pasar global bernilai besar yang mendorong gaya hidup konsumtif dan kompetisi sosial, meskipun hanya dalam bentuk sederhana seperti pertukaran hadiah. Secara ilmiah, tidak ada bukti bahwa tanggal kelahiran memiliki keistimewaan spiritual, keberuntungan, atau energi tertentu sebagaimana diyakini budaya kuno. Karena itu, bila seseorang ingin bersedekah, berbagi hadiah, atau melakukan kebaikan, Islam menganjurkannya kapan saja tanpa mengaitkannya dengan ulang tahun, sehingga kebaikan tetap berlangsung tanpa membentuk kebiasaan yang tidak memiliki landasan dalam syariat maupun sejarah Islam. Wallahu a’lam. Barakallahufikum
Dijawab oleh: Tim Ilmiah Wahdah Islamiyah Pinrang
Sumber:
islamqa.info/ar
islamweb.com/ar/
binbaz.org.sa/
Arsip Tanya Jawab
t.me/wahdahpinrang/2720
