Makna Hadis tentang Kesungguhan Nabi ﷺ di Sepuluh Malam Terakhir Ramadan
Soal 238: Makna Hadis tentang Kesungguhan Nabi ﷺ di Sepuluh Malam Terakhir Ramadan
Pertanyaan:
Apa makna hadis tentang “mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya” yang dilakukan Rasulullah ﷺ pada sepuluh malam terakhir Ramadan?
Jawaban
Maksud hadis “mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya” adalah penjelasan tentang kesungguhan Rasulullah ﷺ dalam beribadah ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan. Hadis ini diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata: “Apabila masuk sepuluh hari terakhir Ramadan, Rasulullah ﷺ menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan sarungnya” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa sepuluh malam terakhir memiliki keutamaan khusus sehingga Nabi ﷺ meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadahnya melebihi hari-hari sebelumnya.
Makna “mengencangkan sarungnya” memiliki dua penafsiran yang sah dan saling melengkapi. Pertama, sebagai kiasan untuk bersungguh-sungguh dan total dalam ibadah, yakni mengerahkan seluruh kemampuan dan keseriusan untuk taat kepada Allah Ta’ala serta meninggalkan sikap santai dalam beribadah. Kedua, sebagai isyarat menjauhi hubungan suami istri, karena Nabi ﷺ fokus beribadah dan biasanya beri‘tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Kedua makna ini benar dan tidak bertentangan, bahkan sama-sama menunjukkan tingkat keseriusan ibadah Nabi ﷺ pada waktu yang sangat mulia tersebut.
Adapun “menghidupkan malamnya” tidak mesti berarti tidak tidur sama sekali sepanjang malam, tetapi bermakna mengisi malam dengan ibadah dan ketaatan seperti salat malam, membaca Al-Qur’an, zikir, dan doa, tidak membiarkannya berlalu dalam kelalaian, tidurnya hanya sedikit tidak sebagaimana malam biasa, boleh jadi tidak tidur sama sekali. Ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah menghidupkan seluruh atau sebagian besar malam dengan ibadah. Sedangkan “membangunkan keluarganya” menunjukkan perhatian Nabi ﷺ agar keutamaan ini tidak beliau raih sendirian, tetapi juga mengajak dan memotivasi keluarganya untuk beribadah dan meraih keutamaan malam-malam tersebut. Ini menjadi dalil dianjurkannya seorang kepala keluarga membimbing dan mengajak keluarganya untuk bersungguh-sungguh dalam ibadah, terutama pada waktu-waktu yang paling utama. Wallahu a’lam. Barakallahufikum
Dijawab oleh: Tim Ilmiah Wahdah Islamiyah Pinrang
Sumber:
islamqa.info/ar
islamweb.com/ar/
binbaz.org.sa/
