Keutamaan Dzikir dan Mengaji Setelah Subuh hingga Syuruq Meski Tidak Terus di Masjid
Soal 221: Keutamaan Dzikir dan Mengaji Setelah Subuh hingga Syuruq Meski Tidak Terus di Masjid
Pertanyaan
Bismillah
Afwan izin bertanya ustadz,
Bagaimana hukumnya apabila Laki” Sholat subuh di Masjid trus pulang kerumah,karna ada udzur
Trus dia mengaji sampai Syuruk dan sholat Sunnah 2 rokaat,
Apakah sma pahalanya klo dia tinggal di masjid smpai Syuruk dan sholat sunnah 2 rakaat, Syukron
Jawaban
Selama seseorang setelah sholat Subuh menyibukkan diri dengan dzikir, doa, membaca Al‑Qur’an, atau amalan saleh lainnya, serta tidak disibukkan oleh urusan dunia kecuali yang mendesak dan itu pun tetap diselingi dengan dzikir, maka keutamaan tersebut tetap didapatkan. Setelah matahari terbit dan naik sekitar lima belas menit, kemudian ia sholat sunnah dua rakaat, maka ia memperoleh keutamaan yang sama. Laki-laki yang pulang dari masjid karena uzur, lalu melanjutkan dzikir dan mengaji di rumah dengan lebih fokus tanpa gangguan duniawi, tetap termasuk dalam keutamaan ini, karena yang menjadi patokan adalah kontinuitas amal dan dzikirnya, bukan semata-mata tempatnya. Masjid pada asalnya disebut karena ia membantu seseorang lebih mudah untuk istiqamah, bukan karena ibadah tersebut terikat mutlak dengan tempat.
Keutamaan ini berlaku sama bagi laki-laki dan perempuan tanpa perbedaan, karena haditsnya bersifat umum. Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa sholat Subuh berjamaah, kemudian duduk berdzikir kepada Allah hingga matahari terbit, lalu sholat dua rakaat, maka baginya pahala seperti haji dan umrah yang sempurna.” (HR. Tirmidzi). Oleh karena itu, perempuan yang berada di rumah, duduk di tempat sholatnya, dan menyibukkan diri dengan dzikir, doa, serta membaca Al‑Qur’an hingga syuruk, kemudian sholat dua rakaat, mendapatkan keutamaan yang sama sebagaimana laki-laki yang melakukannya di masjid. Tolok ukur utamanya adalah menjaga waktu setelah Subuh hingga syuruk untuk ketaatan kepada Allah.
Adapun jika di sela-sela waktu tersebut terjadi aktivitas karena kebutuhan mendesak, seperti membantu urusan penting atau berbicara seperlunya dengan keluarga, maka hal itu tidak menghilangkan keutamaan, selama tidak berubah menjadi kesibukan dunia yang melalaikan dzikir. Berbicara seperlunya karena kebutuhan tidak memutus keutamaan dzikir. Yang paling penting adalah niat yang benar, menjaga dzikir, dan menghidupkan waktu setelah Subuh hingga syuruk dengan ibadah, karena ini merupakan amalan yang agung dan kesempatan pahala yang besar di sisi Allah. Untuk pembahasan yang mirip bisa merujuk ke nomor soal 181, 75, dan 4. Wallahu a’lam. Barakallahufikum
Dijawab oleh: Tim Ilmiah Wahdah Islamiyah Pinrang
Sumber:
islamqa.info/ar
islamweb.com/ar/
binbaz.org.sa/
