Hukum Tukar Kado
Soal 383: Hukum Tukar Kado
Pertanyaan
Apa hukum tukar kado ustadz?
Jawaban
Tukar kado hukumnya boleh dengan syarat selama tidak mengandung unsur perjudian (maysir) atau ketidakjelasan (gharar) ataupun suap. Islam menganjurkan saling memberi hadiah sebagai sarana menumbuhkan kasih sayang, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Malik dan Al‑Bukhari dalam Al‑Adab Al‑Mufrad). Nabi ﷺ juga menerima hadiah dan membalasnya sebagai bentuk kebaikan timbal balik (HR. Al‑Bukhari). Selama hadiah diberikan secara normal tanpa unsur haram, tanpa tekanan, dan tanpa maksud buruk, maka tukar kado termasuk amalan sosial yang dianjurkan.
Namun tukar kado menjadi haram jika memakai sistem yang membuat peserta bisa untung atau rugi, misalnya membawa hadiah dengan nilai tertentu tetapi terdapat unsur perjudian membuatnya mendapat hadiah yang jauh lebih murah atau jauh lebih mahal, ini masuk dalam larangan maysir. Memberi hadiah dengan niat agar mendapat hadiah pula hukumnya dirinci sesuai tujuannya. Bila seseorang berharap dalam hati balasan sekadar sebagai bentuk timbal balik sosial yang wajar, maka hal itu boleh, tapi bila hadiah diberikan dengan niat memperoleh hadiah yang lebih besar atau demi keuntungan terselubung, maka niat tersebut tercela dan dapat mendekati praktik yang tidak dibenarkan bila mengandung unsur manipulasi atau ketidakjelasan. Adapun bila hadiah diberikan untuk tujuan haram seperti suap kepada pekerja atau pejabat, maka hukumnya haram. Wallahu a’lam. Barakallahufikum
Dijawab oleh: Tim Ilmiah Wahdah Islamiyah Pinrang
Sumber:
islamqa.info/ar
islamweb.com/ar/
binbaz.org.sa/
Arsip Tanya Jawab
t.me/wahdahpinrang/2720
