Mengagungkan Sepuluh Hari Terakhir Ramadan dan Makna Penutup Amal
Soal 239: Mengagungkan Sepuluh Hari Terakhir Ramadan dan Makna Penutup Amal
Pertanyaan:
Mengapa sepuluh hari terakhir Ramadan diagungkan sebagai momentum penutup amal, dan bagaimana semangat berlomba dalam ketaatan pada waktu ini?
Jawaban:
Sepuluh hari terakhir Ramadan adalah momentum agung yang di dalamnya seorang muslim diperintahkan untuk mengerahkan kesungguhan terbaiknya dalam beramal, karena nilai amal sangat ditentukan oleh penutupnya. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada penutupnya” (HR. Bukhari dan Muslim). Oleh sebab itu, Ulama menjelaskan bahwa siapa yang menutup Ramadannya dengan ketaatan, salat, zikir, doa, dan taubat, maka ia telah menutup amalnya dengan keadaan yang paling mulia. Inilah rahasia mengapa Nabi ﷺ meningkatkan ibadah secara nyata pada sepuluh malam terakhir, sebagai bimbingan agar umatnya tidak lalai justru di saat-saat akhir.
Permisalan logis yang sering digunakan adalah seperti seekor kuda pacuan: ketika mendekati garis akhir, ia tidak melambat, tetapi justru mengerahkan seluruh tenaga terbaiknya untuk memenangkan perlombaan. Demikian pula seorang muslim, ketika Ramadannya hampir berakhir, ia tidak pantas mengendur, tetapi semakin bersungguh-sungguh agar ia mencapai garis akhir dalam keadaan terbaik. Permisalan lain adalah seperti seorang pelajar yang menghadapi ujian akhir; ia tidak berhenti belajar dan lebih serius lagi di hari-hari terakhir. Begitu pula seperti seorang pedagang yang menjelang penutupan transaksi, ia berusaha menyempurnakan akad agar tidak merugi di akhir, karena keuntungan atau kerugian ditentukan pada penutupnya.
Kesungguhan ini tercermin jelas dalam amalan Rasulullah ﷺ sebagaimana diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Apabila masuk sepuluh hari terakhir Ramadan, Rasulullah ﷺ menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh dalam ibadah” (HR. Bukhari dan Muslim). Semua ini menunjukkan bahwa orang beriman tidak memandang akhir sebagai waktu bersantai, tetapi sebagai kesempatan emas untuk menutup amal dengan keadaan yang paling dicintai Allah Azza wa Jalla. Wallahu a’lam. Barakallahufikum
Dijawab oleh: Tim Ilmiah Wahdah Islamiyah Pinrang
Sumber:
islamqa.info/ar
islamweb.com/ar/
binbaz.org.sa/
