Hukum Sholat Tarawih 10 Rakaat dan Witir 1 Rakaat
Pertanyaan
Ada Akhwat yang bertanya terkait dengan Sholat tarawih yang 10 rakaat dan witir 1 raka’at. Katanya baru tahun ini berubah sholat tarawihnya karena baru ada himbauan dari pusat (suatu lembaga Dakwah) Dan katanya yang kuat itu ini bukan yang 8 rakaat tambah 3 witir. Sebagai Hadist dari Aisyah Radhiallahu Anha bahwa sholat malam Rasulullah 2,2 rakaat tambah 1 witir (11 rakaat).
(Fulanah)
Jawaban
Ulama sepakat bahwa sholat tarawih termasuk bagian dari qiyam Ramadhan dan tidak ditentukan jumlah rakaatnya secara baku oleh Nabi ﷺ. Hadits Aisyah radhiallahu ‘anha: “Rasulullah ﷺ tidak pernah menambah pada bulan Ramadhan dan di luar Ramadhan lebih dari sebelas rakaat; beliau sholat empat rakaat, jangan engkau tanya bagus dan panjangnya, lalu empat rakaat, kemudian beliau sholat witir satu rakaat” (HR. Bukhari dan Muslim), menjelaskan kebiasaan sholat malam Nabi ﷺ secara umum, bukan penetapan khusus jumlah rakaat tarawih. Karena itu, para ulama menegaskan bahwa hadits ini tidak membatasi tarawih hanya 8 rakaat ditambah 3 witir, tetapi menunjukkan bolehnya sholat malam dengan jumlah tersebut.
Adapun sholat tarawih 10 rakaat dan witir 1 rakaat (total 11 rakaat), maka ini termasuk bentuk pelaksanaan yang sah dan dibolehkan. Witir satu rakaat secara khusus memang disyariatkan, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: “Sholat malam itu dua rakaat dua rakaat, jika salah seorang dari kalian khawatir masuk waktu subuh maka hendaklah ia sholat satu rakaat sebagai witir bagi sholat yang telah dikerjakannya” (HR. Bukhari dan Muslim). Melakukan tarawih dengan jumlah genap berapa pun lalu ditutup dengan witir satu rakaat sesuai tuntunan sunnah adalah amalan yang benar.
Perubahan kebijakan suatu lembaga dakwah yang mengarahkan tarawih 10 rakaat dan witir 1 rakaat tidak bisa dikatakan menyelisihi sunnah. Yang keliru adalah menganggap hanya satu bentuk saja yang paling benar dan menafikan bentuk lain yang juga memiliki dasar. Nabi ﷺ bersabda: “Sholat malam itu dua rakaat-dua rakaat” (HR. Bukhari), yang menunjukkan keluasan dalam jumlah rakaat. Baik 8 rakaat, 10 rakaat, 20 rakaat, maupun selainnya, selama dilakukan dengan thuma’ninah dan ditutup witir, semuanya termasuk amalan yang dibenarkan dalam syariat. Wallahu a’lam. Barakallahu fikum.
Dijawab oleh: Tim Ilmiah Wahdah Islamiyah Pinrang
Sumber:
islamqa.info/ar
islamweb.com/ar/
binbaz.org.sa/
Arsip Tanya Jawab
t.me/wahdahpinrang/2720
