DPD Wahdah Islamiyah Pinrang

Ilmu, Amal, Dakwah, Tarbiyah

DPD Wahdah Islamiyah Pinrang

Ilmu, Amal, Dakwah, Tarbiyah

Artikel

Mengapa Saat Hijrah Ingin Menyendiri dan Terus Mengingat Kesalahan Masa Lalu?

Soal 176: Mengapa Saat Hijrah Ingin Menyendiri dan Terus Mengingat Kesalahan Masa Lalu?

Pertanyaan

Assalamualaikum maaf jika mengganggu ustadz jadi pertanyaan saya kenapa harus sendiri tdk mau di ganggu oleh orang lain saat berhijrah? Dan mengingat kesalahan terus menerus

Jawaban

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
Keinginan untuk menyendiri dan tidak ingin banyak diganggu orang lain saat berhijrah adalah kondisi yang sering terjadi dan dapat dimaklumi dalam Islam. Hal ini biasanya karena seseorang sedang fokus memperbaiki hubungan dengan Allah, menjaga hati, dan menjauh dari hal-hal yang bisa melemahkan tekad hijrah. Allah berfirman: Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (QS Al-Hasyr: 18). Ayat ini menunjukkan pentingnya muhasabah dan fokus memperbaiki diri, dan pada fase tertentu, menyendiri dapat membantu menjaga keikhlasan serta menghindari pengaruh yang buruk.

Adapun sering mengingat kesalahan masa lalu, itu bisa menjadi rahmat jika mendorong kepada taubat, namun bisa menjadi ujian jika berlebihan sampai menimbulkan putus asa. Islam mengajarkan keseimbangan antara takut akan dosa dan berharap rahmat Allah. Allah Ta’ala berfirman: Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah (QS Az-Zumar: 53). Mengingat dosa boleh selama mendorong taubat, bukan menjerumuskan pada keputusasaan.

Namun hijrah bukan berarti memutus diri dari kaum muslimin secara mutlak. Islam tetap menganjurkan kebersamaan dalam kebaikan, belajar, dan saling menasihati. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka lebih baik daripada mukmin yang tidak bergaul dan tidak bersabar atas gangguan mereka (HR At-Tirmidzi). Jika sudah lebih kuat, hendaknya perlahan membuka diri kepada lingkungan yang shalih, karena hijrah yang benar adalah meninggalkan dosa menuju ketaatan, bukan lari dari manusia, tetapi berjalan bersama mereka di atas kebenaran. Wallahu a’lam.
Barakallahu fikum

Dijawab oleh: Tim Ilmiah Wahdah Islamiyah Pinrang
Sumber:
islamqa.info/ar
islamweb.com/ar/
binbaz.org.sa/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *