DPD Wahdah Islamiyah Pinrang

Ilmu, Amal, Dakwah, Tarbiyah

DPD Wahdah Islamiyah Pinrang

Ilmu, Amal, Dakwah, Tarbiyah

AkhlaqArtikel

Mengapa Taat Terasa Berat, Tapi Maksiat Terasa Mudah?

Pertanyaan

Assalamualaikum tabe ustadz dih kenapa susah taat kepada allah mudah melakukan maksiat atau dosa padahal mau berhenti apa yang allah larang dan niat kami hanya kepada Allah?

(Fulan)

Jawaban

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
Ini adalah pertanyaan yang sangat jujur dan manusiawi, dan para ulama sudah lama menjelaskannya. Pada dasarnya, Allah memang menciptakan manusia dengan nafsu dan diuji dengan bisikan setan. Ketaatan terasa berat karena ia bertentangan dengan hawa nafsu, sedangkan maksiat terasa mudah karena sejalan dengan keinginan jiwa yang belum terdidik. Rasulullah ﷺ bersabda: “Surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai (oleh nafsu), dan neraka dikelilingi oleh syahwat” (HR. Muslim). Jadi beratnya taat bukan tanda Allah membenci kita, justru itu tanda sedang diuji dan diangkat derajatnya.

Niat yang ikhlas kepada Allah itu sangat mulia, namun niat saja tidak cukup tanpa mujahadah (kesungguhan melawan diri). Banyak orang ingin berhenti dari dosa, tetapi masih memberi “jalan masuk” bagi dosa itu: lingkungan, kebiasaan lama, pandangan, atau penundaan taubat. Allah berfirman, “Sesungguhnya nafsu itu benar-benar menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku” (QS. Yusuf: 53). Artinya, tanpa pertolongan Allah, manusia memang lemah. Karena itu, orang yang taat adalah orang yang terus-menerus meminta pertolongan Allah, bukan orang yang merasa kuat dengan dirinya sendiri.

Selain itu, dosa yang sering dilakukan tanpa taubat akan mengeraskan hati, sehingga ketaatan makin terasa berat. Nabi ﷺ bersabda: “Jika seorang hamba melakukan dosa, maka dititikkan satu titik hitam di hatinya…” (HR. Tirmidzi, hasan). Namun kabar baiknya, selama masih ada penyesalan dan keinginan untuk berubah, pintu taubat masih terbuka. Allah berfirman, “Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah” (QS. Az-Zumar: 53).

Maka jalan keluarnya bukan putus asa, tapi memperkuat tiga hal: doa yang jujur agar Allah membenci maksiat dalam hati kita, menjauh dari sebab-sebab dosa walau berat, dan istiqamah walau sering jatuh. Orang beriman bukan yang tidak pernah berdosa, tapi yang selalu kembali. Wallahu a’lam. Barakallahufikum

Dijawab oleh: Tim Ilmiah Wahdah Islamiyah Pinrang


Sumber:
islamqa.info/ar
islamweb.com/ar/
binbaz.org.sa/
Arsip Tanya Jawab
t.me/wahdahpinrang/2720

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *