DPD Wahdah Islamiyah Pinrang

Ilmu, Amal, Dakwah, Tarbiyah

DPD Wahdah Islamiyah Pinrang

Ilmu, Amal, Dakwah, Tarbiyah

Artikel

Melihat Allah

Soal 32: Melihat Allah

Antara Kemustahilan di Dunia dan Kenikmatan di Akhirat

Pertanyaan

Apakah benar Allah tidak dapat dilihat, ustaz?

Jawaban

Dalam aqidah Islam, manusia tidak dapat melihat Allah di dunia. Ketika Nabi Musa ‘alaihis salam memohon untuk melihat Allah, Allah berfirman:

“Engkau tidak akan sanggup melihat-Ku.”
(QS. Al-A‘raf: 143)

Ayat ini menunjukkan keterbatasan kemampuan penglihatan makhluk di kehidupan dunia. Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Tidak seorang pun di antara kalian akan melihat Rabb-nya hingga ia meninggal dunia.”

Hadis ini menjadi dalil umum bahwa melihat Allah secara nyata di dunia adalah hal yang mustahil.

Para ulama sepakat bahwa tidak ada makhluk yang melihat Allah di dunia. Adapun perbedaan pendapat (khilaf) hanya terjadi secara khusus terkait Nabi Muhammad ﷺ. Sebagian kecil ulama berpendapat bahwa beliau melihat Allah. Namun pendapat yang paling kuat berdasarkan riwayat penjelasan Nabi ﷺ bahwa beliau melihat cahaya, menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ tidak melihat Allah dengan mata kepala. Karena itu, kesimpulan jumhur ulama tetap: tidak ada seorang pun yang melihat Allah di dunia, termasuk Nabi ﷺ.

Adapun di akhirat, orang-orang beriman akan diberi kenikmatan melihat Allah dengan jelas. Ini merupakan puncak kenikmatan di surga. Allah berfirman:

“Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri, memandang kepada Rabb mereka.”
(QS. Al-Qiyamah: 22–23)

Demikian pula firman-Nya:

“Bagi orang-orang yang berbuat baik ada kebaikan dan tambahan (ziyādah).”
(QS. Yunus: 26)

Para ulama menafsirkan ziyādah sebagai kenikmatan melihat Allah secara nyata di surga. Rasulullah ﷺ juga menjelaskan bahwa orang-orang beriman akan melihat Rabb mereka sebagaimana mereka melihat bulan purnama: jelas dan tanpa kesulitan. Perumpamaan ini bukan menyamakan Allah dengan bulan, tetapi menjelaskan betapa jelasnya penglihatan tersebut.

Dengan demikian, Allah tidak dapat dilihat di dunia. Namun orang-orang beriman akan melihat-Nya di akhirat sebagai karunia terbesar.

Islam juga mengenalkan tingkatan ihsan, yaitu tingkatan tertinggi dalam beragama. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya; jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

Martabat ihsan menegaskan bahwa meskipun Allah tidak dapat dilihat di dunia, seorang hamba dituntut menghadirkan pengawasan dan kehadiran Allah dalam hatinya saat beribadah dan beramal. Dengan kesadaran ini, seorang mukmin akan menjaga keikhlasan, ketundukan, dan adab kepada Allah, karena ia yakin sepenuhnya bahwa Allah Maha Melihat segala sesuatu.

Ihsan di dunia menjadi jalan menuju kenikmatan terbesar di akhirat, yaitu melihat Allah secara nyata sebagai balasan bagi orang-orang yang menyempurnakan iman dan amal mereka.

Barakallahu fikum.

Wallahu a’lam.


Dijawab oleh:
Tim Ilmiah Wahdah Islamiyah Pinrang

Sumber:
islamqa.info
islamweb.com
binbaz.org.sa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *