Umdatul ahkam (Sub bab tentang adzan)

Fawaid Taklimk Ustadz Muhammad Syahrir, Lc حفظه الله

Catatan Harianto Madia Hafizhahullah

Hadits:

– Dari sahabat Nabi yang bernama Abu Juhaifah radhiyallahu ‘anhu, dia mengatakan, Saya pernah mendatangi Rosulullah dikemahnya. Ternyata Bilal bin robah keluar dari kemah tersebut membawa bejana yang berisi air sisa wudhu Rosulullah. Para sahabat berusaha mengambil bagian dari air sisa wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para sahabat bertabarruk dengan sisa wudhu Rosulullah. Kemudian Rosulullah keluar dengan pakaian berwarna merah. Kemudian Bilal bin robah mengumandangkan adzan. Pada saat mengatakan حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ (dia memalingkan wajahnya kesebelah kanan) dan saat mengatakan حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ (dia memalingkan wajahnya kesebelah kiri). Setelah Bilal bin robah adzan Kemudian ditancapkan tongkat dihadapan Rosulullah kemudian Rosulullah sholat dhuhur 2 rakaat dan sholat ashar 2 rakaat (dijamak dan diqoshor).

Pelajaran dari hadist ini:

>Para sahabat merasa bangga dan berlomba” untuk berkhidmat kepada Rosulullah. Bahkan untuk menyiapkan air wudhu Rosulullah. Bahkan sampai pada hal” yang sepele seperti ketika Rosulullah ingin berwudhu sementara Rosulullah masih memakai sepatunya maka ada sahabat yang hendak melepaskan sepatu Rosulullah. Begitupula dengan sahabat” yang lain seperti ibunya Anas bin malik menghibahkan anaknya yaitu anas bin malik dan sejak itu anas menjadi pelayan Rosulullah sampai Rosulullah meninggal dunia.

>Sisa wudhu Rosulullah ada berkahnya. Bahkan ludahnya Rosulullah ada berkahnya dan bisa menjadi obat. Ketika ‘Ali radhiyallahu ‘anhu sedang sakit matanya maka Rosulullah memerintahkan seseorang untuk memanggil ‘Ali kemudian Rosulullah meludah kematanya dan pada waktu itu Alloh memberikan kesembuhan pada matanya ‘Ali bin Abi tholib. Diantara bentuk penghargaan mereka(para sahabat) adalah tidaklah Rosulullah berbicara kecuali mereka akan diam semuanya dan mendengarkan dengan baik dan tidaklah Rosulullah meludah melainkan mereka akan berusaha untuk mengambil ludah tersebut dan menggosokkannya dibadan mereka« Ini hanya ada pada Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam !!

Masalah keberkahan tidak boleh kita sembarangan. Jangan kita sembarangan mengalap berkah bahkan dari mesjid”. Tidak boleh !! seperti misalnya orang yang menggosok” dinding mesjid nabawi atau dinding masjid harom atau dinding ka’bah. Padahal ka’bah sendiri kita tidak diperintahkan untuk mengusapnya kecuali 2 bagian saja yaitu hajar aswad dan rukun yamani. Selain dari 2 bagian ini pada ka’bah maka tidak ada sunnahnya kita mengusapnya.

Perkataan Umar bin khottob ketika mencium hajar aswad ,
_”Demi Alloh , saya sangat mengetahui bahwa kamu ini hanya sekedar batu saja yang seandainya saya tidak pernah melihat Nabi menciummu maka saya tidak akan pernah menciummu”_

Apa hikmahnya ? Untuk mengajarkan orang” yang datang setelahnya bahwasanya kita mencium hajar aswad bukan untuk mengambil berkah tapi untuk mengikuti sunnah Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Apatah lagi kalau ada yang mengalap berkah di kuburan (Waliya’udzubillah. Dianggap kuburannya wali fulan bisa berjalan diatas air , bisa terbang. Kita nda tau ini wali Alloh atau wali syaithon?

*”Yang namanya karomah itu tidak datang setiap kita mau kita bisa melakukannya tapi yang namanya karomah itu Alloh berikan kapan Alloh kehendaki. Bukan kapan dikehendaki oleh wali tersebut”*

Jadi kalau ada orang bisa berjalan diatas air kapan saja dia mau maka yakinlah dia bukan wali Alloh tapi dia wali syaithon.

>Hukum menggunakan pakaian warna merah. Dalam sebuah hadist , Abdullah bin Abbas mengatakan , “Saya dilarang oleh Rosulullah untuk menggunakan pakaian berwarna merah”

Lalu bagaimana mengkompromikan kedua hadist ini ? Sebagian ulama kita menggabungkan kedua dalil ini dengan mengatakan bahwasanya yang dilarang adalah pakaian yang 100% berwarna merah. Adapun jika ada campuran warna lain misalnya maka ini tidak termasuk dalam larangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

>Diantara adab bagi muadzin adalah pada saat mengatakan حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ cukup wajah saja yang dipalingkan kesebelah kanan(tanpa memalingkan semua tubuhnya). Kedua kaki tetap menghadap kiblat dan pada saat mengatakan حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ cukup wajah saja yang dipalingkan kesebelah kiri.

>Meletakkan sutroh pada saat kita sholat. Baik ketika mukin atau safar maka Rosulullah meletakkan sutroh. Yang paling diperhatikan adalah tingginya(sekitar 1hasta atau 30cm atau lebih) bukan lebarnya. Ini merupakan sunnah Rosulullah. Bahkan Sebagian ulama mengatakan wajib bagi imam atau sholat sendirian. Adapun bagi makmum maka tidak perlu memakai sutroh karena sutrohnya imam merupakan sutrohnya makmum. Dinding bisa dijadikan sutroh bahkan orang yang duduk itu juga bisa dijadikan sutroh meskipun rawan karena bisajadi orang tersebut meninggalkkan tempatnya.

>Sunnahnya menjamak dan mengqoshor sholat pada saat safar.

*”Keringanan yang Alloh berikan maka Alloh akan senang ketika kita mengambil keringanan tersebut”*

Hadits:

– Dari Abdullah bin ‘umar radhiyallahu ‘anhuma , bahwasanya Rasulullah bersabda ,
“Sesungguhnya Bilal bin robah adzan dimalam hari(sebelum waktu subuh) maka makan dan minumlah kalian sampai mendengar adzannya Abdullah bin ummi maktum”

Pelajaran dari hadist ini:

>adzan subuh 2 kali. Ini sunnah(sunnah yang boleh ditinggalkan). Adzan yang pertama adalah sebelum masuk waktu subuh(Bilal bin robah) dan adzan yang kedua(Abdullah bin ummi maktum). Tujuan adzan yang pertama adalah untuk membangunkan orang” yang sedang tidur dan mengingatkan kepada orang” yang sedang sholat malam bahwa waktu subuh tidak lama lagi dan juga mengingatkan orang” yang mau makan sahur Dan berhenti dari makan dan minum kalau sudah mendengar adzannya Abdullah bin ummi maktum.

>Waktu imsak(tidak makan dan minum lagi) adalah pada saat masuk waktu subuh. Jadi sebelum masuk waktu subuh maka masih boleh makan dan minum. Namun jangan juga diwaktu yang mepetnya karena nanti kita tidak khusyu’ makan. Bagusnya adalah sebagaimana yang dilakukan oleh Rosulullah , berhenti makan dan minum sekitar 10 atau 15 menit sebelum masuk waktu subuh. Jadi sudah selesai makan dan minum masih ada waktu tersisa 10 atau 15 menit sebelum masuk waktu subuh. Ini adalah yang pertengahan.

– “Kalau kalian mendengarkan adzan maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan muadzin kecuali pada kalimat حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ dan حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ
Maka kita menjawab dengan mengatakan لاَ حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ”
>Kenapa pada kalimat ini kita tidak menjawab dengan kalimat yang sama? Karena kalimat tersebut merupakan kalimat ajakan untuk memanggil kita sholat maka tidak pas kalau kita menjawabnya dengan kalimat yang sama.

*”Untuk menghadiri sholat sekalipun kita membutuhkan pertolongan dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala supaya kita bisa mengerjakannya dengan baik”*

Wallahu A’lam

 

Baca Juga  KALA MALAM MENJELANG

Silakan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here