SAAT ASA MENEMUKAN JALANNYA

Dulu pernah mengimpikan rumah yang tak begitu besar dengan pekarang luas untuk tempat bercocok tanam. Hingga sempat dihinggapi penyesalan saat ditakdirkan membangun rumah di pinggiran kota dengan luas tanah yang hanya cukup untuk bangunan rumah saja. Yah, setelah melalui kisah yang tak begitu manis kami akhirnya menetap di sebuah kompleks perumahan yang pada umumnya berdempetan. Maka impian untuk berkebun pun sirna.

Berkali -kali mencoba menanam dalam pot depan rumah yang nyaris tak punya lahan. Namun tak pernah berhasil karena selalu saja saat mulai berkecambah dibongkar oleh ayam-ayam yang mencari makan. Akhirnya saya berfikir, “ya, sudahlah, lupakan soal si hijau ini. Tak ada harapan lagi menyalurkan darah petani dalam diriku”.

Akhirnya sampai suatu ketika sekitar 3 bulan yang lalu, saya tersangkut di di sebuah tontonan YouTube yang berkaitan dengan urban farming. Berkebun ala orang kota yang tak membutuhkan lahan luas. Cukup modal kemauan dan kreativitas saja.

Maka konten-konten yang berkaitan pun bermunculan di halaman YouTube. Satu-persatu kutonton. Dari urban farming ala bule, ala pendatang di negeri orang sampai ala sebangsa dan setanah air. Maka asa pun menemukan jalannya. Impian berkebun yang terkubur oleh takdir berlahan sempit kembali menguat. Memenuhi kebutuhan sayur di dapur dari hasil tangan sendiri mulai terbayang.

Dengan memanfaatkan teras atas yang kosong, kami mulai mencoba bercocok tanam dengan modal harapan dan semangat. Menggunakan barang-barang bekas agar hemat di kantong sekaligus turut memperpanjang usia pakai sampah rumah tangga. Berharap turut berkonstribusi dalam menjaga bumi tetap hijau dengan mengurangi suplai sampah negeri yang semakin meresahkan. Mungkin tak begitu nyata pengaruhnya tapi memulai memang tak perlu dari hal besar.

Sebulan mencoba, hasil mulai terlihat. Budget belanja sayur mayur mulai terpangkas sedikit demi sedikit. Bayam, sawi dan kangkung bergantian menghiasi meja makan kami. Anak-anak yang awalnya sulit makan sayur pun mulai ketagihan. Tak butuh nasehat panjang agar mereka menyukainya. Bahkan jika saat makan tiba dan sayur belum terlihat di meja makan, mereka akan menanyakan “dimana sayur, Bu”?.

Selama menanam sayur dan membersamai pertumbuhannya. Kami melihat bahwa bukti nyata tentang teori kebaikan yang dilakukan akan diikuti kebaikan lainnya. Demikian pula dengan keburukan akan saling mengikuti. Nyambungnya dimana, ya?

Kita lihat dulu perkataan para ulama:

إن الحسنة تنادي أختها و تدعوها

“Sesungguhnya satu kebaikan akan menyeru dan mengajak kebaikan yang lainnya”

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman[55]: 60)

Yah, kebaikan itu memang saling mengundang. Analogi ini muncul dari kisah kami berikut. Satu persatu tanaman bermunculan sendiri tanpa sengaja ditanam. Kog bisa?

Cerita bermula saat kami mencoba mengolah sampah organik dapur menjadi kompos, nutrisi bergizi bagi tanaman organik mini kami. Ternyata biji-bijian yang ikut terfermentasi bersama sampah lainnya saat diaplikasikan ke tanaman malah ikut tumbuh tanpa kami sengaja menanam.

Tanaman seperti tomat, cabe, dan semangka dan lainnya turut menghiasi koleksi tanaman organik mini kami meski kami tak pernah menanam. Mereka turut menumpang tumbuh pada media tanam yang kami siapkan untuk tanaman tertentu. Maka dalam satu pot kadang terdiri dari 3 jenis tanaman, padahal yang ditanam cuma sejenis.

Hikmah lain yang kami peroleh. Kami melihat bagaimana perumpamaan sebuah hadist qudsi tentang pahala yang berlipat. Satu amalan menghasilkan banyak pahala. Demikian pula dengan tanaman kami. Kami hanya membeli benih sekali dengan modal 15.000 rupiah. 5000 untuk masing-masing benih kangkung, sawi dan bayam.Hingga saat ini, kami tak membeli lagi benih yang sama. Cukup membiarkan salah satu jenis tanaman menua dan menghasilkan benih, maka akan diperoleh calon tanaman baru yang berlipat-lipat. Dari sebiji benih bisa menghasilkan ratusan benih.

فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا لَهُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةٍ

…, Jika ia melakukan kebaikan tersebut, maka catatlah baginya 10 kebaikan yang semisal hingga 700 kali lipat.” (HR. Bukhari no. 7062 dan Muslim no. 129).

Bayam misalnya. Dari sebiji benih bayam yang seukuran pasir ketika tumbuh menjadi tanaman, maka ia akan memproduksi ratusan benih baru dari satu pohon. Dari ratusan benih baru itu jika semuanya ditanam akan menghasilkan ribuan benih. Demikian pula tanaman lainnya seperti itu seterusnya. Ah, sungguh nikmat Tuhanmu yang mana yang kau dustakan.

Pinrang, 8 April 2020

*Ummu Zaki

Baca Juga  Kemungkaran di Akhir Tahun

Silakan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here