*๐Ÿ“’Umdatul ahkam (bab sifat sholat Nabi)*
*๐ŸŽ™Ustadz Muhammad Syahrir., Lc ุญูุธู‡ ุงู„ู„ู‡*

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Bahwa Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memulai sholat, setelah takbirotul ihrom beliau diam sejenak, lalu aku berkata: “Demi Alloh, Wahai Rosulullah apa yang anda baca pada saat anda diam di antara takbirotul ihrom dan bacaan surat ? Rosulullah bersabda ,

ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุจูŽุงุนูุฏู’ ุจูŽูŠู’ู†ููŠ ูˆูŽุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุฎูŽุทูŽุงูŠูŽุงูŠูŽ ูƒูŽู…ูŽุง ุจูŽุงุนูŽุฏู’ุชูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงูŽู„ู’ู…ูŽุดู’ุฑูู‚ู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽุบู’ุฑูุจู ุŒ ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ู†ู‚ู‘ูู†ููŠ ู…ูู†ู’ ุฎูŽุทูŽุงูŠูŽุงูŠูŽ ูƒูŽู…ูŽุง ูŠูู†ูŽู‚ู‘ูŽู‰ ุงูŽู„ุซู‘ูŽูˆู’ุจู ุงูŽู„ู’ุฃูŽุจู’ูŠูŽุถู ู…ูู†ู’ ุงูŽู„ุฏู‘ูŽู†ูŽุณู ุŒ ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุงูุบู’ุณูู„ู’ู†ููŠ ู…ูู†ู’ ุฎูŽุทูŽุงูŠูŽุงูŠูŽ ุจูุงู„ู’ู…ูŽุงุกู ูˆูŽุงู„ุซู‘ูŽู„ู’ุฌู ูˆูŽุงู„ู’ุจูŽุฑูŽุฏู

_”Ya Alloh, jauhkan antara aku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana engkau telah menjauhkan antara ufuk timur dan barat, Ya Alloh sucikanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana dijauhkannya pakaian putih dari noda, Ya Alloh cucilah kesalahan-kesalahanku dengan es, air dan embun.”_
(HR. Bukhori dan Muslim)

โฉTakbirotul ihrom merupakan salah satu rukun dalam sholat. Tidak sah sebuah sholat tanpa takbirotul ihrom. Ketika masbuk dan mendapati imam sedang sujud maka tidak boleh langsung sujud tanpa bertakbir sebelumnya. Kalau bertakbir satu kali maka kita niatkan takbirotul ihrom namun kalau bertakbir dua kali maka takbir yang pertama adalah takbirotul ihrom dan yang kedua adalah takbir perpindahan dari berdiri ke sujud.
โฉDi dalam sholat usahakan tidak ada jedanya maksudnya tidak ada waktu dimana kita tidak membaca apa” di dalamnya. Para makmum yang sholat dibelakang imam yang ternyata lama berdirinya misal pada sholat yang sifatnya sirriyyah kita sudah selesai membaca alfatihah dan surah tapi imam belum ruku’ maka apakah kita diam saja ? Kita manfaatkan waktu tersebut untuk menambah surah yang lain didalam sholat kita. Jangan biarkan waktu tersebut berlalu dan kita tidak membaca apa” didalamnya. Begitu pula ketika makmum ruku’ ternyata imamnya belum i’tidal maka kita menambah bacaan *”subhana robbiyal ‘adzim”* meskipun sampai 10 kali tidak mengapa.
โฉDoa istiftah hukumnya sunnah. Bukan rukun juga bukan wajib. Ketika sesorang meninggalkannya baik sengaja atau tidak sengaja maka itu sama sekali tidak mempengaruhi sah tidaknya sholat yang ia kerjakan. Kalau sekiranya itu merupakan sesuatu yang wajib maka Rosulullah akan mengajarkan kepada para sahabat sebelum para sahabat bertanya karena Rosulullah tidak akan mengakhirkan sebuah penjelasan dari waktu yang dibutuhkan.

Doa istfitah yang diajarkan Rosulullah selain yang di atas, diantaranya :

ูˆูŽุฌู‘ูŽู‡ู’ุชู ูˆูŽุฌู’ู‡ููŠูŽ ู„ูู„ู‘ูŽุฐููŠู’ ููŽุทูŽุฑูŽ ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงูˆูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถูŽ ุญูŽู†ููŠู’ูู‹ุง ู…ูุณู’ู„ูู…ู‹ุง ูˆูŽู…ูŽุง ุฃูŽู†ูŽุง ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูุดู’ุฑููƒููŠู’ู†ูŽ. ุฅูู†ู‘ูŽ ุตูŽู„ุงูŽุชููŠ, ูˆูŽู†ูุณููƒููŠู’ ูˆูŽู…ูŽุญู’ูŠูŽุงูŠูŽ ูˆูŽู…ูŽู…ูŽุงุชููŠ ู„ูู„ู‡ู ุฑูŽุจูู‘ ุงู„ู’ุนูŽู„ูŽู…ููŠู’ู†ูŽุŒ ู„ุงูŽ ุดูŽุฑููŠู’ูƒูŽ ู„ูŽู‡ูุŒ ูˆูŽุจูุฐูŽู„ููƒูŽ ุฃูู…ูุฑู’ุชูุŒ ูˆูŽุฃูŽู†ูŽุง ุฃูŽูˆู‘ูŽู„ู ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ููŠู’ู†ูŽ. ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุฃูŽู†ู’ุชูŽ ุงู„ู’ู…ูŽู„ููƒู ู„ุงูŽ ุฅูู„ู‡ูŽ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุฃูŽู†ู’ุชูŽ ุณูุจู’ุญุงูŽู†ูŽูƒูŽ ูˆูŽุจูุญูŽู…ู’ุฏููƒูŽ

_”Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang mencipta langit-langit dan bumi tanpa ada contoh sebelumnya, dalam keadaan aku lurus, condong kepada al-haq lagi berserah diri dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. Sesungguhnya sholatku, ibadah sembelihanku, hidup dan matiku hanyalah untuk Alloh Robb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya dan dengan itulah aku diperintah dan aku adalah orang yang pertama kali berserah diri. Yaa Alloh, engkau adalah Raja tidak ada sesembahan yang haq kecuali engkau. Maha Suci Engkau dan sepenuh pujian kepada-Mu.”_
(HR. Nasa-i)

Baca Juga  Menapaki Tangga Izzah

Kemudian yang lain ,

ุงู„ู„ู‡ู ุฃูŽูƒู’ุจูŽุฑู ูƒูŽุจููŠู’ุฑู‹ุงุŒ ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏู ู„ูู„ู‡ู ูƒูŽุซููŠู’ุฑู‹ุงุŒ ูˆูŽุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุจููƒู’ุฑูŽุฉู‹ ูˆูŽุฃูŽุตููŠู’ู„ุงู‹

_”Alloh Maha Besar, segala puji bagi Alloh dengan pujian yang banyak. Maha Suci Alloh pada waktu pagi dan petang.”_
(HR. Muslim)

Dan juga ,

ุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽูƒูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ูˆูŽุจูุญูŽู…ู’ุฏููƒูŽุŒ ูˆูŽุชูŽุจูŽุงุฑูŽูƒูŽ ุงุณู’ู…ููƒูŽุŒ ูˆูŽุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ุฌูŽุฏู‘ููƒูŽุŒ ูˆูŽู„ุงูŽ ุฅูู„ูŽู‡ูŽ ุบูŽูŠู’ุฑููƒูŽ

_”Maha Suci engkau yaa Alloh dan sepenuh pujian kepada-Mu. Berlimpah keberkahan nama-Mu, Maha tinggi Kemuliaan dan Keagungan-Mu dan tidak ada sesembahan yang benar kecuali Engkau.”_
(HR. Abu Dawud)

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: _”Rosulullah membuka sholatnya dengan takbir kemudian membaca Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin. Apabila ruku’, beliau tidak mengangkat kepalanya dan tidak pula menundukkannya, akan tetapi diantara keduanya (pertengahan). Apabila bangkit dari ruku’, beliau tidak sujud sampai beliau berdiri lurus. Dan ketika mengangkat kepalanya dari sujud, beliau tidak sujud kembali hingga beliau tegak duduknya. Pada setiap dua raka’at beliau membaca tahiyat. Beliau membentangkan kakinya yang kiri dan menegakkan (telapak) kakinya yang kanan (duduk iftirosy). Dan Rosulullah melarang duduk seperti syaithon dan juga melarang meletakkan semua tangan (jari-jari sampai siku) di lantai ketika sujud. Dan Rosulullah menutup sholatnya dengan salam.”_
(HR. Muslim)

โฉDalam hadits ini tidak disebutkan Rosulullah menjahrkan basmalahnya sehingga sebagian ulama mengatakan bahwa _basmalah_ tidak dijahrkan pada sholat” jahriyyah. Namun pada riwayat yang lain dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rosululah memulainya dengan _Bismillahirrahmahirrohim_ (dijahrkan).

Ibnul Qoyyim mengatakan, _”Rosulullah pernah melakukan keduanya. Namun lebih sering Rosulullah mensirrkan bacaan basmalahnya dari pada menjahrkannya_

โฉTumakninah adalah tidak berpindah ke rukun yang lain sebelum sempurna rukun yang sedang dikerjakan.
โฉUlama kita berbeda pendapat dalam masalah tahiyat awal dalam sholat yang dua tahiyatnya. Apakah tahiyat awal membaca tahiyat saja atau ditambah sholawat ?

>Pendapat pertama, sebagian ulama mengatakan pada tahiyat awal juga membaca sholawat.

Baca Juga  DALAM PENANTIAN

>Pendapat kedua, jumhur ulama mengatakan bahwa tahiyat awal hanya membaca tahiyat saja. Adapun sholawat dibaca pada tahiyat akhir.
Ini pendapat yang lebih kuat !!
Wallahu a’lam

โฉPosisi duduk tahiyat awal pada sholat yang satu saja tahiyatnya adalah duduk iftirosy. Namun dalam masalah ini ada perbedaan pendapat yang sangat tajam diantara ulama.

>Pendapat pertama, Imam Malik rahimahullah mengatakan, posisi duduk tahiyat baik awal maupun akhir adalah duduk tawarruk.

>Pendapat kedua, Imam Abu Hanifah rahimahullah mengatakan, posisi duduk tahiyat baik awal maupun akhir adalah duduk iftirosy.

>Pendapat ketiga, Imam Asy Syafi’i rahimahullah, membedakan antara duduk tahiyat awal dan akhir. Untuk duduk tahiyat awal yaitu duduk iftirosy. Sedangkan untuk duduk tahiyat akhir yaitu duduk tawarruk.

๐Ÿ“–Kalau kita mau membaca buku” fiqih dari awal masalah thoharoh sampai akhir masalah jihad, mua’amalah, riba dan sebagainya maka akan kita dapati bahwa kebanyakan masalah ada perbedaan pendapat di dalamnya. Masalah yang diperdebatkan jauh lebih banyak daripada masalah yang disepakati oleh para ulama.

๐Ÿ’ซNamun para salaf kita mereka adalah orang” yang ilmunya luar biasa ditambah juga dengan adab yang luar biasa. Sehingga dengan perbedaan yang sangat banyak tersebut tidak menjadikan mereka berselisih dengan yang lain atau saling mentahdzir dengan yang lain.

๐Ÿ”–Imam Ahmad dan Imam syafi’i, diantara mereka berdua terjadi perbedaan pendapat yang sangat banyak dan sebagian pendapat itu sangat bertentangan sehingga tidak bisa disingkronkan sama sekali namun hal ini tidak menjadikan mereka saling menjauhi antara satu dengan yang lain.

“Satu ketika, Imam Ahmad rahimahullah sakit parah yang menyebabkan ia tidak dapat bangkit dari kasurnya, sahabat baiknya yaitu Imam Syafi’i rahimahullah datang menjenguknya. Ketika Imam Syafi’i melihat kondisi yang dialami sahabatnya, beliau sangat bersedih hingga akhirnya beliau pun jatuh sakit.

Saat Imam Ahmad mengetahui berita itu, beliau menguatkan dirinya berusaha untuk sehat dan segera menjenguk Imam Syafi’i di rumahnya. Ketika Imam Syafi’i melihatnya datang, beliau berkata

*”Saat sahabat baikku sakit, aku datang menjenguknya, hingga aku pun sakit karena kesedihanku akan keadaannya. Kini sahabat baikku telah sembuh dan datang menjengukku. Sungguh saat ini aku pun telah merasa sembuh karena melihat keadaannya”*

_Subhanalloh_

๐Ÿ’ŒKita mungkin berbeda dalam banyak hal tapi tidak sebanyak perbedaan antara Imam Syafi’i dan Imam Ahmad. Namun kita sekarang kalau berbeda pendapat sedikit maka yaa sudah ๐Ÿ™‚
>Menuduh saudaranya ahli bid’ah.
>Jangan hadir dimajelisnya fulan ahli bid’ah.
>Bermajelis dengan ahli bid’ah maka termasuk ahli bid’ah.

Baca Juga  PAHALA DUA KALI

Ini terlalu bermudah”an mengatakan orang lain yang berbeda pendapat dengannya sebagai ahli bid’ah. Ini adalah masalah besar yang berbahaya ketika seseorang berkata kepada saudaranya “kamu kafir!” padahal bukan orang kafir maka tuduhan tersebut kembali kepadanya. Begitu pun ketika seseorang menuding saudaranya ahli bid’ah padahal bukan maka tudingan tersebut akan kembali padanya. Olehnya, dalam masalah _khilaf mu’tabar_ seperti ini perlu kita berlapang dada sebagaima salaf kita menunjukkan hal ini.

Ibnul Mubarok berkata ,
*”Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”*

โฉRosulullah di dalam sholat melarang duduk seperti duduknya syaiton. Bagaimanakah duduknya syaithon ?
>Duduk di atas kedua tumit dan menjadikan punggung kaki dilipat kebawah lalu jari” kaki menghadap kebelakang.
>Duduk dengan mengangkat paha dan betis kemudian meletakkan kedua tangan di lantai.

Adapun yang disunnahkan ialah duduk _iq’aa_ yaitu duduk diatas kedua tumit lalu jari kaki ditekuk menghadap kiblat.

Kemudian larangan selanjutnya ialah merapatkan tangan (jari” sampai siku) di lantai ketika sujud.

Kalau sholat sendiri maka dibuka lebar siku adapun sholat berjama’ah maka tangan dirapatkan pada sisi kanan dan kiri badan kita.

โฉLafadz” salam :
>Mengucap, _”Assalamu’alaikum wa rohmatullah”_ ketika menoleh ke kanan dan ke kiri.

Mengucap, _”Assalamu’alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh”_ ketika menoleh ke kanan dan mengucap, _”Assalamu’alaikum wa rohmatullah”_ ketika menoleh ke kiri.

Dari Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ,
_”Aku diperintahkan bersujud dengan tujuh bagian anggota badan: (1) Jidat (termasuk hidung), (2,3) kedua telapak tangan, (4,5) kedua lutut dan (6,7) ujung kaki kanan dan kiri.”_
(HR. Bukhori dan Muslim)

๐Ÿ“ŒIni sifatnya wajib dalam artian ketika seseorang sujud dan ada satu anggota badan dari tujuh tersebut yang tidak menempel di lantai dengan sengaja maka sholatnya batal. Misal yang menempel hanya jidat saja sementara hidungnya tidak dan dilakukan dengan sengaja maka sholatnya tidak sah.

๐ŸŽฉAdapun masalah songkok dll yang sampai menutup jidat, kalau tidak ada udzurnya maka ini hukumnya makruh. Adapun kalau ada udzur misal karena lantainya sangat dingin maka yang seperti ini tidak mengapa.

๐Ÿ˜ทBegitupula dengan masker (menghalangi hidung menempel di lantai) namun tidak mengapa kalau ada udzurnya. Adapun kalau tidak ada udzurnya maka hukumnya makruh.

Wallahu a’lam

Akhukum Harianto Madia Hafizhahullah

Silakan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here