Rindu Mesjid

Meski daerahnya belum termasuk zona merah dalam pandemi Covid-19, namun telah diberitakan ada yang positif Covid-19 dan sedang dalam perawatan medis. Hal ini sontak membuat Keluarga Khansa menerapkan social distancing.  Tentu saja pemberlakuan ini banyak menyentuk ranah amal jama’i di luar aktivitas rumahnya.

Ta’lim, belajar dan mengajar juga ia tangguhkan. Anak-anak pun diliburkan. Aktivitas luar dihentikan total berganti dengan padatnya tugas sekolah anak dan dirinya sendiri yang juga sebagai seorang pendidik. Yah, pembelajaran virtual menjadi pilihan satu-satunya menggantikan pembelajaran langsung di kelas.

Sejak berlakunya edaran Gubernur setempat agar menetap di rumah masing-masing untuk meminimalisir penyebaran virus Corona yang semakin massif di beberapa daerah, kemudian dilanjutkan dengan himbauan dari ketum ormas yang menjadi wasilah Khansa dan keluarganya belajar agama. Akhirnya untuk pertama kalinya, Jumat (20-3-2020),  suami Khansa dan putra sulungnya yang juga diliburkan dari pondok tak melakukan shalat Jumat di mesjid berikut shalat fardhu yang bisa dikatakan tak pernah alpa kecuali benar-benar beruzur syar’i.

Sehari absen di mesjid, membuat anak sulungnya yang terbiasa berinteraksi didalamnya merasa ada yang kurang, demikian pula anaknya yang umur 7 tahun. Kebiasaan ikut sang ayah ke mesjid setiap harinya membuat ia sedikit merasa ada yang berbeda. Begitu pula sang suami yang terlihat sedih bahkan tak jarang terisak dalam sujud-sujudnya saat mengimami keluarganya shalat di rumah.

Khansa tentu merasakan kesedihan mereka, bahkan ia pun tak jarang menitikkan air mata mendengar lantunan azan yang terdengar di rumahnya saat dikumandangkan di setiap waktu shalat dari mesjid yang belum menerapkan penutupan aktivitas ibadah sementara itu. Ia membayang jika suara itu kemudian tak terdengar lagi di suatu waktu.

Baca Juga  Pemberian yang Tak Lekang Oleh Zaman

Tak pernah terbayang bahwa shalat-shalat fardhunya kini ia laksanakan berjama’ah sekeluarga. Hari-hari biasanya hanya dirinya bersama kedua putrinya. Namun tersebab pandemi ini, shalat berjamaah yang diimami suami bergantian si sulung ia pun rasakan.
Pemandangan yang hanya ia dapatkan di potret keluarga sakinah di dalam adegan film-film ataupun buku bacaan biasa.

Sebuah gambaran tentang potret keluarga agamis yang pernah ia protes dalam hati selama ini. Mengapa sang suami dalam gambaran itu selalu jadi imam shalat fardhu di rumahnya (meski ada kekhususan tentang kebolehannya). Mengapa sang ayah dalam penggambaran itu tak shalat di mesjid bersama putranya?  Atau mengapa yang digambarkan bukan ibu dan anak putrinya saja yang shalat di rumah?

Namun kali ini, ia mencoba berprasangka baik bahwa mungkin dalam potret itu hanyalah shalat sunnah berjama’ah yang memang afdholnya dilakukan di rumah bagi laki-laki. Ataukah keluarga dalam gambaran itu sedang beruzur seperti yang ia rasakan kini.

Jelang isya’, si sulung  berucap setelah sehari tak menginjakkan kaki di mesjid, “ah, rindu rasanya shalat di mesjid”. Kalimat yang mengisyaratkan pertautan hati dengan mesjid ini, membuat Khansa terharu. Kecintaan anaknya pada rumah Allah ini telah tumbuh bersemi dan mulai menyatu dengan dirinya. Semoga ia tetap Istiqomah dan menjadi salah seorang pemuda yang hatinya senantiasa terpaut dengan mesjid serta dilindungi dari fitnah-fitnah dunia. Aamiin.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مُـرُوْا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّـلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا، وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ.

“Suruhlah anak kalian shalat ketika berumur 7 tahun, dan kalau sudah berusia 10 tahun meninggalkan shalat, maka pukullah ia. Dan pisahkanlah tempat tidurnya (antara anak laki-laki dan anak wanita)”. HR Abu Dawud

Baca Juga  Seputar Tayammum

Pinrang, 21-Maret-2020

*Ummu Zaki*

Silakan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here