“MISTERI JIMAT HITAM PADA BAYI”

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Para pembaca yang dimuliakan Allah, pada kesempatan kali ini kita akan membahas misteri jimat hitam pada sibayi, walaupun secara umum banyak jenis jimat yang kadang menemani sibayi yang status hukumnya sama, namun pada kesempatan ini kami khususkan untuk jimat benang hitam.

Anak adalah anugerah dan amanah dari Allah yang harus dipertanggungjawabkan oleh setiap orang tua dalam merawat, mengasuh dan mendidik anak-anaknya.

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda :

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ

“Setiap manusia yang lahir, mereka lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani” (HR. Bukhari-Muslim)

Memiliki anak adalah sebuah kebahagiaan tersendiri bagi kedua orang tua, tapi sayangnya kadang karena kecintaan yg berlebihan membuat kita, kadang jatuh pada lembah kesyirikan.

Seperti yang akan kita bahas pada kesempatan kali ini.

Jimat benang hitam pada bayi, bahkan ada yg sampai dewasa belum dilepas, merupakan sesuatu yang tidak asing lagi bagi beberapa suku di indonesia, terkhusus suku bugis dan makassar.

Para pembaca yang dimuliakan Allah, namun tahukah kita maksud, tujuan dan dosa dari penggunaan jimat ini.

Pemakaian jimat benang hitam sering kita temukan pada anak bayi bahkan mungkin keluarga kita sendiri, apa maksud dan tujuanya dari penggunaan jimat ini ?.karena penasaran beberapa tahun yang lalu kami pernah menanyakan lansung pada beberapa orang yang suka membuat jimat ini, rata-rata jawaban mereka tentang tujuan penggunaan jimat benang hitam yang kadang diikatkan di leher, di kaki dan di pergelangan tangan.

Berikut beberapa tujuan dari jimat benang hitam pada sibayi :


1. Untuk tanda pengenal bagi mahluk halus agar tidak mengganggu sibayi.
2. Untuk penangkal penyakit ‘ain ( dalam bahasa bugis diistilahkan dengan suppa-suppa)
3. Tujuan umumnya sebagai jimat penjaga anak dari gangguan mahluk halus.

Pembaca yang dimuliakan Allah, dari tujuan pembuatan jimat yg kita baca jelaslah bahwa disini ada praktek kesyirikan, berikut kami sebutkan poinya.

1.Adanya perjanjian dan kerjasama yang sudah turun temurun kepada bangsa jin dan manusia, bahwa bayi yang memakai jimat benang hitam adalah anggota atau sahabat mereka, sehingga jangan diganggu bahkan jimatnya sebagai penjagaan bagi sibayi, hal ini jelas menyelisihi agama kita bahkan sangat jelas kesyirikan didalamnya.
Padahal Tidak boleh seorang Muslim meminta bantuan jin untuk tujuan apapun. Karena mereka tidak memberi bantuan kecuali manusia menaati para jin dalam berbuat maksiat kepada Allah dan berbuat kesyirikan atau kekufuran. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan” (QS. Al Jin: 6).

2.Penggunaan jimatnya untuk menangkal penyakit ‘ain (bahasa bugisnya suppa-suppa) dalam masalah ini jelas menyelisihi syariat, padahal rasulullah mengajarkan doa agar kita dan keluarga kita terhindar dari penyakit ‘ain. Berikut do’a yang biasa diucapkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta perlindungan untuk Hasan dan Husain, yaitu:

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانِِ وَ هَامَّةِِ وَ مِنْ كُلِّ عَيْنِِ لامَّةِِ

“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang telah sempurna dari godaan setan, binatang beracung dan dari pengaruh ‘ain yang buruk.” (HR. Bukhari dalam kitab Ahaditsul Anbiya’: 3120)

Atau dengan doa,

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَِ

“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang telah sempurna dari kejahatan makhluk-Nya.” (HR. Muslim 6818).

Adapun cara pengobatan penyakit ‘ain, dalam beberapa riwayat sudah dijelaskan bagaimana cara mengobati orang yang terkena penyakit ‘ain. Setidaknya, ada dua cara mengobati orang yang terkena penyakit ‘ain sebagaimana telah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pertama : jika orang yang memandang dan menyebabkan timbulnya penyakit ‘ain diketahui identitasnya, maka dia segera untuk melakukan wudu. Kemudian air bekas wudunya disiramkan pada orang yang terkena penyakit ‘ain. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dalam kitab Alazkar, bahwa Sayidah Aisyah berkata;

كَانَ يُؤْمَرُ اْلعَائِنُ اَنْ يَتَوَضَّأَ وَيَغْتَسِلَ مِنْهُ اْلمَعِيْنُ

“Orang yang menyebabkan penyakit ain disuruh wudu. Lalu yang terkena penyakit ain disuruh mandi dengan air bekas wudu tersebut.”

Kedua : jika tidak diketahui siapa yang memandang dan menyebabkan timbulnya penyakit ain, maka orang yang terkena penyakit ain diobati dengan cara diruqyah. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari dari Ummu Salamah, dia bercerita;

أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – رَأَى فِى بَيْتِهَا جَارِيَةً فِى وَجْهِهَا سَفْعَةٌ فَقَالَ ; اسْتَرْقُوا لَهَا ، فَإِنَّ بِهَا النَّظْرَةَ

Nabi pernah melihat seorang budak perempuan di rumah Ummu Salamah, wajahnya terlihat kusam dan pucat. Lalu beliau memerintahkan,“Ruqyah perempuan ini, karena dia terkena ‘ain.”

3.Hukum menggunakan jimat apapun modelnya telah dilarang dalam agama kita.
Jimat adalah kesyirikan, tidak diperbolehkan seorang muslim menggunakannya atau meyakini jimat bisa membawa keberuntungan dan menjauhkan dari bahaya.

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

“Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ

‘Sesungguhnya jampi, jimat dan tiwalah adalah syirik.’”(HR. Bukhari)

dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ عَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ

“Barangsiapa menggantungkan jimat, maka ia telah melakukan syirik.” (HR. Abu Dawud)

Pembaca yang dimuliakan Allah, semoga dengan artikel yg singkat ini, membuka wawasan kita untuk memahami tentang bahaya kesyirikan dan segera untuk bertobat dan menjauhinya, karena ketahuilah bahwa berbuat syirik akbar (besar) tidak akan diampuni oleh Allah jika mati dan belum bertaubat. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisa’: 48)

Terakhir dari tulisan ini mari jaga diri dan keluarga kita dari hal-hal yg mendekatkan kita pada kesyirikan, tentunya dengan cara banyak belajar ilmu agama.
Semoga Allah menjauhkan kita dari dosa kesyirikan, dengan memperbanyak doa.

اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ , وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ

Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan (syirik) yang menyekutukan-Mu sedangkan aku mengetahuinya; dan aku memohon ampun kepada-Mu dari apa-apa yang tidak aku ketahui.

✏️Akhukum Rahmat Abu Uwais

Baca Juga  Beriman Kepada Takdir Allah

Silakan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here