Bismillah…

Sahabat, pasti Anda pernah mendengar atau membaca yang namanya taqlid. Belum pernah? Mungkin yang belum pernah, setidaknya Anda baru saja membacanya barusan. Nah, ini baru pernah.

Taqlid sering diistilahkan dengan upaya untuk mengikuti pendapat seseorang, dalam hal ini bisa dikatakan kepada ulama atau ustadz. Misalnya, ada dua pendapat ulama, satu A, satunya B. Orang yang taqlid pada ulama A, maka jelas dia akan memilih A, begitu pula sebaliknya. Dan, dari taqlid itu bisa muncul menjadi taqlid buta, bahkan tuli. Biasanya, yang ada taqlid buta, lah ini kok ditambah jadi taqlid tuli juga?

Didasari Dari Fanatik

Fenomena jaman now, fanatik itu bisa muncul pada semua orang. Terlebih bagi seorang penuntut ilmu syar’i. Penuntut ilmu agama Islam.

Dulunya dia mungkin tidak pernah belajar kepada seorang ustadz atau ulama. Eh, begitu mulai belajar pada seorang guru, dan dia merasa nyaman di situ, maka kecintaannya tumbuh pada ilmu sang guru tersebut. Terus-menerus dengan guru yang sama, sampai akhirnya tidak mau melirik atau belajar dengan ustadz atau guru lainnya. “Ngapain ke ustadz lain, toh ustadz yang ini sudah cukup kok!” Begitu mungkin perkataannya.

Nah, fanatik pada guru memunculkan yang namanya taqlid. Kalau sudah parah, bisa memunculkan “penyembahan” kepada guru tersebut. Lho, sebentar, sebentar! Menyembah guru? Tidak mungkin, lah. Kita kan menyembah Allah, masa menyembah ustadz atau ulama sih? Maksudnya bagaimana?

Memang, menyembah ulama ini tidak serta-merta dalam bentuk bersujud di depannya seperti sujud kepada Allah. Dalam pengertian penyembahan ini adalah selalu mengikuti pendapatnya, padahal pendapat tersebut menyalahi syariat Islam. Pada bentuk lain, mengharamkan yang Allah halalkan atau sebaliknya, menghalalkan yang Allah haramkan. Ada yang begitu? Oh, jelang dos! Maksudnya jelas dong. Selalu ada contohnya.

Misalnya, ada seorang ulama atau yang mengaku dirinya ulama, mengatakan bahwa jilbab itu tidak wajib. Pendapatnya yang lain mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam itu tidak dijamin masuk surga. Ketika bulan Desember, mengatakan bahwa mengucapkan Selamat Natal itu tidak apa-apa. Anggap saja sebagai bentuk toleransi kepada nonmuslim. Hah? Toleransi atau malah telor asin? Terlihat enak, tetapi sebenarnya rasanya asin, tidak manis bagi aqidah kita.

Baca Juga  Ternyata Selevel!

Pendapat-pendapat nyeleneh semacam itu sangatlah banyak, terlebih di zaman penuh fitnah sekarang ini. Lucunya, makin nyeleneh, terasa makin banyak pendukungnya. Aneh ‘kan? Sudah ulamanya yang nyeleneh, pengikutnya ikut aneh. Pusing kalau sudah begini.

Kapan Seharusnya Taqlid Itu?

Jika taqlid buta dan tuli itu dilarang, lalu semestinya taqlid itu pada perkara yang bagaimana? Untuk menjawab pertanyaan ini, maka yang benar adalah pada perkara-perkara ijtihadiyah. Atau perkara-perkara yang tidak disebutkan keterangannya secara jelas dalam Al-Qur’an maupun hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Contohnya adalah Pemilu.

Tentang Pemilihan Umum, memang tidak ada dalil yang mengharamkan secara mutlak. Oleh karena itu, cukup banyak ulama yang menyatakan pendapat dengan membolehkannya. Jika Pemilu itu untuk kemaslahatan umat, maka mesti mengikutinya. Sebagai contoh, saat ada beberapa pasangan yang maju. Seharusnya umat Islam menggunakan hak pilihnya untuk memilih yang paling bagus bagi agamanya. Kalau toh semuanya jelek, maka dipilih yang paling sedikit kejelekannya.

Hal yang lucu adalah ada ustadz mengatakan bahwa Pemilu itu haram secara mutlak. Tidak boleh diikuti sama sekali. Padahal, mengenai urusan pergantian kepemimpinan, maka itu diserahkan kepada masing-masing negara. Ustadz Syaiful Yusuf, Lc, MA mengatakan bahwa cara yang disetujui oleh semua orang dalam negara tersebut untuk melakukan rotasi pemimpin, maka itulah yang terbaik. Jadi, buat apa mengharamkan sesuatu yang dikatakan ulama itu boleh? Memangnya yang mengharamkan itu ulama juga? Belum tentu juga kalee…

Ada lagi contohnya selain Pemilu? Oh, ada dong! Foto misalnya. Dalil pengharaman foto ini diambil dari penyamaannya dengan melukis wajah. Padahal, secara bentuk dan caranya, jelas berbeda sama sekali. Melukis memang dicela, karena menciptakan gambar makhluk bernyawa. Sedangkan foto itu sebenarnya adalah memindahkan gambar. Bisa diibaratkan seperti bercermin.

Makanya, Syekh Utsaimin rahimahullah, mengatakan foto itu hukumnya boleh, kalau ada keperluan. Contohnya untuk KTP, SIM, passport dan lain sebagainya. Bayangkan KTP tidak ada fotonya. Anda akan susah membedakan nama Agus misalnya. Ada begitu banyak nama Agus di muka bumi Indonesia ini. Bahkan bagi kalangan muslimah, foto itu juga ada keperluannya, untuk identitas negara yang resmi. Termasuk dalam hal ini adalah buku nikah. Maaf, bagi Anda yang belum memilikinya ya? Semoga segera terpacu untuk mendapatkannya ya! Aamiin…

Baca Juga  Menapaki Tangga Izzah

Jadi, karena ada ulama yang membolehkannya, maka foto masih bisa dipakai. Bahkan, ketika ada seorang ustadz yang memposting foto di media sosialnya, jangan dulu dicela atau dikritik habis-habisan. Karena siapa tahu, ada hujjahnya atau dasar penguat bagi beliau. Kita boleh berbeda dengan beliau, tetapi mengkritik, mencela sampai dengan menghina, eits, hati-hati! Tunggu dulu!

Ulama Mazhab Melarang Taqlid Buta dan Tuli

Silakan Anda cek melalui kitab para ulama maupun sumber dari internet, bahwa para imam mazhab yang terkenal empat orang, yaitu: Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy Syafi’i dan Imam Ahmad, tidak ada yang mengatakan untuk taqlid 100 % kepada mereka.

Justru yang ada, apabila ada dalil dari Al-Qur’an dan hadist yang lebih shohih dan itu menyelisihi pendapat mereka, maka tinggalkan pendapat mereka dan ambil dalil yang lebih paten tersebut. Mereka juga manusia biasa, yang bisa saja salah. Tapi, yang perlu diingat adalah seorang ulama apabila salah berijtihad, maka pahalanya satu. Bila benar, pahalanya dua. Kita? Silakan direnungkan jawabannya sendiri ya!

Buat apa jadi cinta buta kepada seorang ulama atau tokoh ustadz jika pendapatnya bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadist, padahal ulama madzhab saja tidak seperti itu maunya kok! Ya ‘kan? Siapa ustadz atau guru kita dibandingkan dengan empat ulama terkenal tersebut? Kalau masih belum ada apa-apanya, coba dipikirkan lagi deh untuk taqlid buta dan tuli tersebut!

Sucikan Hati Dari Taqlid Buta dan Tuli

Lebih baik bagi kita sekarang adalah membersihkan hati-hati ini dari perkara iri, dengki, jengkel, benci maupun gemes kepada para ustadz yang berbeda dengan pendapat yang kita ambil. Mereka juga punya hujjah, punya dalil, tidak perlu saling mencela. Apalagi perbedaan tersebut adalah perkara fiqih, yang notabene akan terus berbeda. Misalnya, tentang qunut Subuh, dilakukan apa tidak? Yang masalah justru yang tidak sholat Subuh. Wadaoww!

Baca Juga  Beberapa Kesimpulan Iman Kepada Takdir Alloh

Atau yang lebih parahnya adalah berbeda dalam perkara aqidah. Ini yang lebih mengerikan. Para ulama bersepakat bahwa Allah itu di atas arsy. Eh, ada yang mengatakan bahwa Allah itu bukan di atas, karena tidak butuh tempat. Masa Tuhan butuh tempat sih? Nah, mengikuti pendapat sesat begini, tidak boleh dilakukan. Sebab perkara aqidah itu sudah jelas dalam Al-Qur’an maupun hadits, berikut pemahaman para sahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Buat apa mengikuti yang di luar itu? Capek deh…!

Sampai di sini, mungkin Anda bertanya-tanya, biasanya itu di tulisan lain, yang ada adalah taqlid buta. Lha kok ini, ditambahi dengan tuli juga, akhirnya menjadi taqlid buta dan tuli?!

Pertama, agar lebih berbeda dan sedikit kreatif, bisa dikatakan begitu. Kedua, karena memang orang yang taqlid buta, dia juga menjadi tuli alias tidak mau mendengar pendapat yang lain. Kokoh dengan pendapatnya. Padahal pendapat lain itu lebih benar dan pendapatnya salah. Tapi, ya, itu tadi kalau sudah A, tidak mau B, C, sampai dengan Z. Masa mau begitu terus sih?

Ketiga, taqlid buta dan tuli ini termasuk cacat yang parah. Mohon maaf bagi penderita disabilitas yang mengalami buta atau tuna netra dan tuli atau tuna rungu. Namun, yang jelas taqlid buta dan tuli itu cacat dari segi agamanya. Bahkan bisa merembet ke hal-hal yang lebih prinsipil, aqidah. Kalau sudah aqidah yang bermasalah, niscaya ada ancaman yang lebih besar, baik di dunia maupun akhirat. Jadi, yuk, hindari taqlid buta dan tuli itu!

Wa’allohu alam bisshawab.
Alhamdulillah.

*Tulisan di atas adalah rangkuman dari ta’lim rutin Maghrib-Isya dengan materi Kitab Tauhid oleh Ustadz Akbar Jabba, S. PdI (Ketua DPD Wahdah Islamiyah Bombana) pada hari Selasa, 18 Jumadil Akhir 1441 Hijriyah atau 11 Februari 2020 di Masjid An-Nur, Ponpes Akhwat Al-Wahdah Bombana.

Silakan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here