📕Umdatul ahkam (bab tentang menghadap kiblat)
🎙Fawaid Taklim Ustadz Muhammad Syahrir,.Lc حفظه الله
Harianto Madia Hafizhahullah

– Dari Abdullah bin ‘umar radhiyallahu ‘anhuma berkata bahwa Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu bertasbih diatas kendaraannya(unta dan sejenisnya) dan Rosulullah akan menghadap sesuai arah kendaraan tersebut(tidak satu arah) dan kalau Rosulullah ingin rukuk dan sujud maka Rosulullah hanya menundukkan sedikit kepalanya dan itu juga dilakukan oleh Abdullah bin ‘umar”

Pelajaran hadist :
>Makna Rosulullah bertasbih adalah Beliau sedang sholat. Diantara makna tasbih adalah sholat. Diantara keringanan yang Alloh berikan adalah kita bisa melakukan sholat diatas kendaraan pada saat kita safar. Adapun klo lagi mukim maka Tidak boleh kita sholat tidak menghadap kiblat. Diantara bentuk rahmat Alloh adalah kita diberi kemudahan”. Kita bisa *sholat sunnah* diatas kendaraan tersebut dengan gerakan” terbatas karena kita tidak akan bisa maksimal dalam rukuk atau sujud maka cukup dengan menundukkan sedikit kepala. Sholat Yang boleh dilakukan diatas kendaraan adalah sholat” sunnah bukan sholat wajib. Karena Diantara rukun sholat adalah berdiri(sholat wajib). Adapun sholat” sunnah maka boleh kita duduk atau berbaring walaupun kita mampu berdiri. Namun tentu saja pahalanya berbeda. Orang yang mampu berdiri namun sholat dengan duduk maka dia mendapatkan pahala setengah jika dia mengerjakannya berdiri. Begitupula Orang yang sholat dengan berbaring dia akan mendapatkan pahala setengah jika dia mengerjakannya duduk. Adapun pada sholat” yang sifatnya wajib maka tidak sah sholat kita tanpa berdiri kalau kita mampu berdiri.

>Sholat witir itu tidak wajib. Pendapat jumhur ulama mengatakan bahwa sholat witir adalah sunnah muakkadah. Karena Rosulullah mengerjakannya diatas untanya. Kalau Sekiranya sholat witir itu wajib maka Rosulullah tidak akan mengerjakannya diatas kendaraannya.

– Pada perjalanan kita sekarang ini Ada beberapa kendaraan yang memang tidak bisa kita singgah(untuk sholat) seperti pesawat atau kapal air. Dua kendaraan ini kalau misalnya perjalanan kita adalah perjalanan jauh dan ada sholat(wajib) yang akan keluar dari waktunya kalau kita tidak sholat diatas kendaraan tersebut. Karena Ketika seseorang menunda sholat keluar dari waktunya dengan sengaja maka ini termasuk dosa besar. Maka dalam kondisi ini diberikan keringanan untuk sholat diatas kendaraan. Tetap mengerjakannya sesuai dengan rukun”nya. Kalau ada air tidak boleh tayammum. Dia sholat dengan berdiri kalau masih ada tempat untuk berdiri. Tidak serta merta boleh dengan duduk. *Rukun yang bisa kita kerjakan dengan sempurna maka kita kerjakan dengan sempurna dan Rukun yang tidak bisa kita kerjakan dengan sempurna maka kita kerjakan sesuai dengan kemampuan kita* .

– Dari Abdullah bin ‘umar radhiyallahu ‘anhuma , Beliau mengatakan : Pada saat orang” sedang sholat subuh di mesjid quba , tiba” ada orang yang datang berkata , “Sesungguhnya sudah ada wahyu yang turun kepada Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang didalamnya berisi bahwasanya qiblat kita sekarang adalah ke ka’bah”. Kemudian para sahabat yang sedang sholat ini mereka langsung mengubah arah kiblatnya syam(baitul maqdis) Kemudian langsung menghadap ke ka’bah”

Pelajaran hadist :
>Kiblat pertama kaum muslimin adalah baitul maqdis. Dan baitul maqdis diantara keistimewaannya adalah merupakan tempat yang harom yang ketiga bagi kaum muslimin setelah masjidil harom(mekkah)dan masjid nabawi(madinah). Dari awal memang Rosulullah inginnya sholat menghadap ke ka’bah karena sangat mencintai ka’bah dibanding tempat” yang lain. Namun Rosulullah ketika masih berada dikota mekkah, ini bisa digabungkan antara keduanya , menghadap ke ka’bah sekaligus baitul maqdis dengan membuat garis lurus. Tapi ketika Rosulullah sudah hijrah ke kota Madinah. Dan Madinah itu berada di pertengahan. Sehingga Rosulullah tidak bisa lagi melakukannya. Karena klo Rosulullah sholat menghadap baitul maqdis otomatis membelakangi ka’bah. Sehingga Rosulullah setiap saat itu melihat ke langit berharap dirubah arah kiblat menghadap ka’bah. Sampai pada tahun ke dua hijriah bulan rojab , Alloh menurunkan ayat yang sudah ditunggu” oleh Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Alloh berfirman :
“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah kelangit, Maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah masjidil harom. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya(ka’bah)…”

Akhirnya Alloh Subhanahu wa Ta’ala mengabulkan apa yang diinginkan oleh Rosulullah. Dihati Rosulullah sangat mencintai ka’bah dan mekkah. Sebaik” tanah disisi Alloh. Bukan sekedar karena kota mekkah itu tempat kelahiran Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam , Bukan !! Tapi karena dimekkah ada ka’bah. Yang merupakan rumah Alloh yang pertama yang dibangun diatas muka bumi ini.

>Ketika ada orang sholat tidak menghadap kiblat maka ada dua kondisi :
1)Bisa sholatnya Sah
2)Bisa sholatnya tidak Sah
Kapan sholatnya sah dan kapan sholatnya tidak sah ?
Orang yang sholat dia tidak menghadap kiblat dan dia tidak berusaha sebelumnya. Dia cuma menebak” tanpa adanya *kesungguhan* untuk mencari tahu dimana arah kiblat. Maka sholatnya tidak sah dan harus mengulanginya setelah dia tahu. Adapun jika dia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menentukan arah kiblat dimana kemudian dia salah maka kita katakan sholatnya sudah sah dan tidak perlu mengulanginya kembali.

Pentingnya kita berusaha. *”Hukum asalnya orang” yang jahil itu dimaafkan”* . Misal orang yang berada di pedalaman tidak ada akses disana dan mereka tidak keluar. Akhirnya mereka tidak faham tentang Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Maka yang seperti ini jahil dan dimaafkan. Adapun orang” yang jahil tentang agamanya padahal di era yang sudah serba mudah ini. Kajian dimana” Ustadz sudah banyak. Kita tinggal belajar saja maka kejahilannya tidak ditoleransi. Karena yang membuat dia tidak tahu adalah karena kemalasannya bukan karena kurangnya ilmu. Ilmu sudah tersebar dimana”. Enggan dia belajar akhirnya dia tidak tahu mana yang wajib, mana yang sunnah, mana yang harom, semua diterjang.

*”Para ulama ketika dia berijtihad terhadap suatu masalah kemudian ijtihadnya benar maka dia mendapatkan dua pahala. Pahala yang pertama pahala usahanya berijtihad dan pahala yang kedua karena ijtihadnya benar. Adapun ulama yang berijtihad kemudian salah maka dia mendapatkan satu pahala. Karena usahanya berijtihad”*

>Para sahabat sangat respon dan sangat cepat ketika ada perintah dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Pada saat mereka sedang sholat dan ada satu orang yang membawa berita. Dan itu juga menunjukkan bahwa boleh kita mengatakan sesuatu kepada orang yang sedang sholat yang memang sangat penting yang berhubungan dengan sholat tersebut. Misal ketika ada orang sedang sholat kemudian dia tidak sadar kalau tersingkap auratnya maka boleh kita mengingatkannya dan mengatakan, “auratmu tersingkap”«ini bukan berarti kita mengajaknya berbicara. Tetapi kita mengatakan kepadanya sesuatu hal yang sangat penting berhubungan dengan sholat yang ia kerjakan tersebut.

Begitupula para sahabiat ketika mendengar ayat tentang perintah hijab(menutup aurot) maka mereka langsung mengambil apa saja yang bisa diambil untuk menutupi aurotnya. Ada yang mengambil gorden”nya dll untuk menutupi aurotnya. Ada yang lagi dipasar, ada yang dijalan. Mereka bersegera. Dimanapun mereka berada maka mereka bersegera untuk menutup aurotnya. Mereka bersegera terhadap apa yang diperintahkan oleh Alloh.

– Seorang tabi’in pernah menjemput Anas bin malik ketika dia datang dari syam kemudian dia melihat Anas bin malik sedang sholat diatas keledai sementara wajahnya tidak menghadap ke kiblat. Kemudian dia bertanya , ‘Wahai Anas, saya melihatmu sholat tidak menghadap ke kiblat’. Kemudian Anas bin malik mengatakan , ‘Seandainya saya tidak pernah melihat Rosulullah melakukannya maka saya tidak akan melakukannya”

Wallahu a’lam

Harianto Madia Hafizhahullah

Baca Juga  Perkataan "Alloh memiliki anak" adalah mungkar

Silakan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here