Menapaki Tangga Izzah

Sabtu 30 Mei 2019
Aula Al ikhlas Pinrang

Ciri kelompok jama’ah yang dicintai

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقٰتِلُونَ فِى سَبِيلِهِۦ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيٰنٌ مَّرْصُوصٌ

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”
(QS. As-Saff 61: Ayat 4)

Bagaimana bangunan yang tidak saling merekat antar satu yang lain? Apakah kokoh dan kuat? Tentu tidak. Karena dinding yang rapat dan kokoh maka indah dan mengesankan. Demikian pula barisan kaum muslimin. Selain rapi juga harus kuat. Makanya tak bisa dipisahkan tarbiyah , dakwah dan taklim. Dia adalah bagian dari perjuangan Islam. Barisan yang rapat akan memberikan nuansa kekuatan yang akan memotivasi kita untuk berada dalam perjuangan.

Islam telah diajarkan barisan rapi dan rapat 5x sehari. Di dunia tidak ada yang mengalahkan kekuatan tentara. Mengapa karena yang lama maupun baru senantiasa latihan baris berbaris. Mereka dilatih untuk berbaris rapi dan rapat. Kita Alhamdulillah setiap hari dilatih Allah baris berbaris dengan komando lafadz mulia Allahu Akbar. Bukan mengahadapi ke komandan tapi menghadap ke Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dipimpin oleh imam yang berkualitas. Yang hafalan lebih banyak, senioritas dalan hijrah. Hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Hendaklah yang menjadi imam diantara kalian adalah yang paling banyak hafalannya dan bacaannya. Jika sama maka yang paling mengerti sunnah Rasulullah , jika masih sama maka yang paling dahulu berhijrah. Kalau masih sama ,maka yang paling tua usianya”

Jadi imam tidak sembarangan. Memiliki kualifikasi terbaik.

خيركم من تعلم القرآن

Sebaik-baik kalian yang mengajarkan Al-Qur’an

فاقد الشيء لا يعطيه

Tidak bisa memberi yang tidak memiliki.

Untuk menggapai Izzah, kita harus mendaki. Menapaki satu tangga ke tangga berikutnya hingga kita berada pada puncak kemuliaan. Menapaki tangga seseorang membutuhkan kekuatan. Seseorang yang asam urat stadium 5 membutuhkan tongkat penyangga dan amat kesulitan menaiki tangga. Demikian sakit2 lain. Kehilangan kekuatan fisik mengakibatkan tidak bisa menaiki tangga. Menaiki tangga agama tidak hanya kekuatan fisik tapi jg kekuatan Ruhiyah. Yang tidak memilikinya tak akan kuat menapaki tangga2 Izzah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا ۚ إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصّٰلِحُ يَرْفَعُهُۥ ۚ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ ۖ وَمَكْرُ أُولٰٓئِكَ هُوَ يَبُورُ

“Barang siapa menghendaki kemuliaan, maka (ketahuilah) kemuliaan itu semuanya milik Allah. Kepada-Nyalah akan naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal kebajikan Dia akan mengangkatnya. Adapun orang-orang yang merencanakan kejahatan mereka akan mendapat azab yang sangat keras, dan rencana jahat mereka akan hancur.”
(QS. Fatir: Ayat 10)

Siapa saja menginginkan Izzah, hendaklah mengetahui Izzah semuanya tanpa sisa hanya milik Allah. Yang harus kita tanamkan dalam keyakinan bahwa Izzah adalah milikNya. Bukan milik orang kuat, cerdas ataupun kaya. Org yang meyakini Izzah milik org kaya akan banyak mendekati orang kaya, meyakini miliknya penguasa, maka mendekati penguasa. Masih banyak saudara kita menyangka Izzah milik Professor, doktor dan pemilik gelar akademik dengan kecerdasan mengagumkan. Falillahi izzatul jami’an. Milik Allahlah seluruhnya kemuliaan.

Jika kita menginginkan Izzah yang berada disisi Allah maka merapatlah kepada Allah. Sepanjang umat enggan merapat kepada Allah maka sepanjang itu pula mereka tidak mendapatkan Izzah.

Ada seseorang ke Eropa lalu ia dijamu dengan hotel terbaik. Maka ia ingin bertemu dengan pemilik hotel itu. Karena pelayanannya yang bgt mengagumkan. Maka ia bertanya kepada resepsionist. Maka ia menjawab “Anda akan bertemu dengannya karena ia akan datang hari ini”. Saya minta nomornya. Maka resepsionist memberikan nomornya dan ternyata itu nomornya sang tamu sendiri. Ia sudah lupa semua hotelnya karena kayanya. Umat Islam tidak kekurangan orang kaya dan cerdas. tapi mana yang lebih cepat mendapatkan Izzah dimasa Rasulullah dibanding hari ini? Masa Rasulullah tentunya.

Izzah kaum muslimin Allah tidak letakkan pada sejumlah harta yang mereka miliki. “Ilaihi…”
(Sambungan ayat). Kepada Allah-lah kalimat thoyyibah terangkat. Berarti untuk memperoleh Izzah Kita harus memiliki kalimat thoyyibah dan mengangkat kepadaNya.

Ibnu Katsir:

لقد ورد عن السلف الذكر والتلاوة والدعاء

Zikir, tilawah dan doa

Suatu hari Musa memohon kepadaNya: ya Allah berikan aku kalimat yang aku pakai memohon kepadamu. Diberikan kalimat laailaahaillallah. Semua nabi memilikinya. Wahai Musa “seandainya 7 lapis langit dan bumi dan kalimat laailaahaillallah di timbangan. (Jarak langit dunia melangit atas jaraknya 500 thn perjalanan begitu sampai ke langit ketujuh. Ketujuh ke air 500 ke kursy 500 THN ke Arsy tidak disebutkan tapi disebutkan jarak cuping ke telinga pemukul Arsy berjarak 500 thn) Maka kalimat laailaahaillallah akan berat dan mengangkat seluruh semesta itu. Begitu beratnya timbangan laailaahaillallah. Dan kalimat ini akan naik kesisiNya dari hambanya. Dia jg yg memberikan sinyal kepada Allah. Semakin kuat sinyalnya semakin cepat memperoleh Izzah. Maka setiap muslim harus memiliki kalimat ini. Siapa yang memilikinya dan senantiasa mengucapkan, menyerukan menjalankan konsekuensinya dan menjauhi pembatal-pembatalnya maka Allah akan memberikan Izzah kepadanya.

Kalimat laailaahaillallah bukan hanya sekedar ucapan belaka.Ia adalah kalimat yang harus mendasari seluruh gerakan dan diam kita. ciri orang beriman yaitu yang senantiasa berdzikir kepada Allah mengingat Allah dalam keadaan berdiri, dimanapun dia berdiri, dalam keadaan duduk dia tetap menyebut asma Allah. Bahkan ketika ia berada diatas pinggangnya (isyarat bahwa tidur terbaik diatas pinggang) Paling utama pinggang kanan.

3 keadaan ini mewakili semua aktivitas berdiri mewakili kesibukan. Duduk aktivitas istirahat, dan baring aktivitas tidur. Kalau kita menulusuri umat Islam dimanapun berada. Kita harus mengerut dada dan mengakui bahwa mereka jauh dari zikrullah dan terlena dengan dunia.

Surah Fathir: 5 dan Lukman ayat 33 menyebutkan dunia yang melenakan .

Allah subhanahu Wata’ala berfirman:

يٰٓأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَّا يَجْزِى وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِۦ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِۦ شَيْئًا ۚ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ ۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutlah pada hari yang (ketika itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya, dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikit pun. Sungguh, janji Allah pasti benar, maka janganlah sekali-kali kamu teperdaya oleh kehidupan dunia, dan jangan sampai kamu teperdaya oleh penipu dalam (menaati) Allah.”
(QS. Luqman: Ayat 33)

Tidak dilarang berdagang sebagaimana Abdurrahman bin auf berdagang Ustman,para Ulama dan salaf. Mereka memiliki uang yang sangat banyak. Apakah mereka menikmati kekayaannya sendiri di keluarganya? Tidak. Kalau kita menelusuri kekayaan mereka pada dakwah dan agama akan membuat berdecak kagum. Adapun kaum Muslimin hari ini yang terlena dengan perdagangannya sehingga lupa dzikrullah. Terkadang diminta sumbangan begitu sulit. Subhanallah.

Dahulu di Suriah, orang -orang kaya menutup laci dari lembaga dakwah yang datang meminta sumbangan. Padahal sedekah sama sekali tidak mengurangi harta. Demikian syaitan menginjeksi manusia agar mengira sedekah mengurangi harta. Apa yang terjadi? Dakwah ahlusunah di Suriah mandeg. Sekarang kaum muslimin tutup laci seperti dahulu di Suriah. Sulit berinfaq untuk dakwah Sheikh …. berkata…kami mendapati org2 kaya yang dahulu menutup laci mereka karena takut didatangi Lembaga dakwah hari ini mereka datang meminta sumbangan di lembaga dakwah. Demikian Allah membalikkan Izzah yang mereka kira pada harta.

Abdullah bin Umar dan Abu Hurairah pernah berzikir di tengah pasar siang bolong, mengingatkan laailaahaillallah. Dan orang berkata disiang bolong saat sibuk begini kau menyeru. Ia berkata justru disaat seperti inilah dzikrullah diperlukan. Mereka senantiasa merenungkan. Lihat pantai, tumbuhan tanaman selalu mengingat Allah, robbanaa maa khalaqta haazda baathilan.

ربنا ما خلقت هذا باطلا

Mengapa kebathilan di pantai, di gunung terjadi? karena mereka telah abai merenungkan ciptaan Allah dan tidak sampai pada hasil perenungan maa khalaqta haazda baathilan. Sementara perenungan dia adalah utama dalam…

Menampakkan kefakiran ketika meminta itu keadaan yang paling disukai Allah. Allah malu menolak permohonan hambanya.

Bagaimana mungkin doa dikabulkan jika makanan dari haram,pakaian dari haram. Sebanyak apapun kita berdoa pada waktu mustajabah jika banyak melakukan kemaksiatan bagaiman mungkin mendapatkan Izzah.

Kalian adalah sebaik-baik umat yang paling agung. Kemuliaan umat ini dikaitkan dengan Amr ma’ruf nahi Munkar. Kalaulah umat Islam ini berhenti memotivasi diri, keluarga, tetangga masyarakat pada laailaahaillallah dan berhenti pulalah Izzah itu. Allah kaitkan pada ayat ini ke akan pada umat Islam amar makruf nahi Munkar. Kaitan keduanya adalah tu’minuuna Billah (jamak).

Syaikh dr .. menjelaskan pada ayat ini ada rahasia yang amat besar tentang didahulukannya dakwah daripada iman. Iman lebih penting dari dakwah. Lawan iman kufur. Orang kafir itu beramal bahkan kadang lebih bermanfaat dari orang muslim sendiri. Lampu ditemukan orang kafir bahkan bermanfaat bagi dakwah tetapi hal tersebut semua tidak bisa mereka peroleh sedikitpun dari apa yang telah dilakukan.

Allah berfirman:

مَّثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ ۖ أَعْمٰلُهُمْ كَرَمَادٍ اشْتَدَّتْ بِهِ الرِّيحُ فِى يَوْمٍ عَاصِفٍ ۖ لَّا يَقْدِرُونَ مِمَّا كَسَبُوا عَلٰى شَىْءٍ ۚ ذٰلِكَ هُوَ الضَّلٰلُ الْبَعِيدُ

“Perumpamaan orang yang ingkar kepada Tuhannya, perbuatan mereka seperti abu yang ditiup oleh angin keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak kuasa (mendatangkan manfaat) sama sekali dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.”
(QS. Ibrahim: Ayat 18)

Mengapa Allah mengaitkan kebaikan umat ini kepada dakwah nahii Munkar baru iman setelah nya. Didalam masalah pendahuluan dan pengakhiran ada faidah. Kadang mengakhiri yang lebih penting. Anda tidak tegak tanpa dakwah

Semendasar apapun iman bagi amal Sholeh dia tidak akan bermanfaat tanpa dakwah amar makruf nahi Munkar. Tidaklah iman itu terlantar kecuali orang itu terlebih dahulu mengabaikan dakwah amal makruf nahi Munkar.

Yang menjaga eksistensi keimanan kita adalah dakwah. Ada dulu mahasiswa ikut program dakwah di kampus, ibadahnya terjaga bahkan ibadah sunnah tetapi ketika pulang kampung, tak ada aktivitas dakwah… akhirnya bersih, jangankan shalat Sunnah sahabat wajib saja sering terlambat. Mengapa? Karena dia tenggelam dalam kesibukan dan meninggalkan dakwah. Disinilah Allah mencatolkan pada dakwah amar makruf nahi Munkar.

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ

Suruhlah keluargamu shalat

Sebelum terbit matahari sudah mulai dakwah. Sang ayah mendakwai keluarga.

Pagi2 buta sebelum matahari terbit adalah dakwah. Pertanyaannya, apakah dakwah ini telah dilakukan umat Islam. Kalau belum. Maka kita masih mimpi meraih izzah. Itulah amalan pembuka dan penutup amalan harian kita.

كان يكره الحديث بعد العشاء

“Rasulullah membenci begadang untuk mengobrol”

Perintahkan keluargamu shalat, dan bersabarlah atasnya.(Thoha:132) Washthobir ‘alaiha. Kapan menggunakan tho ketika berdakwah dalam keluarga. Disitu menunjukkan kesabaran ekstra. Coba buka surah Al-Baqarah 155.

وبشر الصابرين.

Disini makna Asha shaabirin adalah kesabaran biasa. Sedangkan Washthobir bermakna kesabaran berlipat. Jadi berdakwah di keluarga sendiri membutuhkan kesabaran berlipat terutama menyuruh shalat.

Source: ustadz Fadlan Lc MHI
Noted by Ummu Zaki

Baca Juga  Perang Badar, Perang Menentukan di Bulan Ramadhan

Silakan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here