Menanamkan Tauhid pada Anak Melalui Musibah

By: Ustadzah Ummu Zaki Hafizhahallah

Tepat tengah malam, terjadi gempa yang mengakibatkan kedua orang tua dalam sebuah rumah terbangun dari tidur. Selang beberapa saat gempa terhenti, merekapun melanjutkan istrirahat. Esoknya jelang shubuh, orang tuanya menyaksikan putranya yang berumur 8 tahun tidur di kamar putrinya yang berumur 10 tahun. Padahal sebelumnya mereka tidur terpisah di kamar yang berbeda. Sang putra bertutur jika semalam tempat tidurnya bergoyang dan ia mengira hantu yang menggerakkan. Orang tuanya menjelaskan jika itu adalah gempa susulan dari gempa kemarin.

Malam selanjutnya, sang putra kembali khawatir akan gempa. Berita yang ia saksikan dengan berbagai kerusakan parah hingga memakan korban reruntuhan menyebabkan ia khawatir untuk tidur sendirian. Dengan penjelasan yang apik dan sederhana dari orang tua, sang anak akhirnya bisa kembali ke pembaringan tanpa kekhawatiran lagi.

Kedua kisah diatas menunjukkan sang putra perlu untuk ditanamkan tauhid uluhiyah terkait khauf dan tawakal juga tentang penanaman rukun iman ke-enam.

Khauf adalah rasa takut kepada Allah akan kemurkaannya. Rasa takut kepada makhluk bisa menjadi sebab kemurkaanNya. Maka menanamkan khauf yang benar pada anak adalah persoalan aqidah uluhiyah yang penting. Anak perlu memahami bahwa makhluk seperti hantu hanya ada dalam cerita fiksi. Kalaupun ada dalam kehidupan nyata maka itu adalah jelmaan jin yang usil kepada manusia yang lemah imannya.

Menjelaskan hakikat jin kepada anak akan memahamkan akan keberadaannya yang tidak perlu ditakuti. Jin adalah makhluk Allah yang setara dengan manusia dalam hal ibadah. Sebab jin dan manusia adalah dua makhluk yang diciptakan untuk beribadah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

Baca Juga  Andil Besar Buat Perubahan

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Az-Zariyat: Ayat 56)

Namun sesungguhnya, manusia lebih mulia dari jin. Bukankah iblis dan malaikat sekalipun diperintahkan bersujud kepada Adam Alaihissalam yang merupakan bapaknya manusia? Maka ketakutan pada hantu/jin hanya merendahkan kemuliaan yang telah disematkan pada penciptaan manusia.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَـقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْۤ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَا لْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا

“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak-cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.”
(QS. Al-Isra’: Ayat 70)

Orang tua perlu menanamkan jika sesungguhnya jin itu minder pada manusia, namun jika manusia takut pada jin sampai mengalahkan ketakutan pada Allah, maka jin akan bertingkah dan merasa hebat. Iapun akan semaki menjadi-jadi mengusili manusia hingga manusia terjatuh pada kesyirikan. Maka cara terbaik menghadapinya adalah tidak takut padanya dan berlindung kepada Allah dari godaannya.

فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Jangan kalian takut kepada mereka, takutlah kepada Allah kalau kalian orang Mukmin.” (QS. Ali-Imran[3]: 175)

Rasa khauf (takut) tidak semestinya diberikan pada sesama makhluk. Rasa takut seperti ini adalah salah alamat. Jin itu tidak lebih mulia dari manusia. Manusia adalah makhluk termulia yang diciptakan Allah di muka bumi. Bukankah iblis dan bahkan Malaikat diperintahkan untuk bersujud kepada Adam Alaihissalam sebagai bapak umat manusia? Maka tak ada alasan untuk takut pada makhluk lain.

Baca Juga  Hikmah Dibalik Musibah

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ ذْ قُلْنَا لِلْمَلٰٓئِكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰ دَمَ فَسَجَدُوْۤا اِلَّاۤ اِبْلِيْسَ ۗ اَبٰى وَا سْتَكْبَرَ ۖ وَكَا نَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, Sujudlah kamu kepada Adam! Maka mereka pun sujud kecuali iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri dan ia termasuk golongan yang kafir.”
(QS. Al-Baqarah: Ayat 34)

Tauhid uluhiyah yang perlu ditanamkan dari kisah kedua adalah tawakkal. Juga penanaman keimanan akan takdir.

وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Dan hanya kepada Allah-lah kalian betawakal, jika kalian benar-benar orang yang beriman” (QS. Al-Maidah : 23)

Tawakal adalah berserah diri kepada Allah. Memahamkan bahwa penyerahan diri ini diperlukan setelah kita berusaha. Saat anak khawatir tertimpa bangunan di saat gempa terjadi maka tanamkan tawakal bahwa serahkan urusan penjagaan kepadaNya. Yang perlu kita lakukan hanya memaksimalkan ibadah, do’a dan tentunya adab dan do’a sebelum tidur yang perlu diperhatikan di momen jelang tidur ini. Perkara kematian dan takdir diserahkan kepada pemegang segala urusan yaitu Allah ‘Azza Wajalla.

Pada poin ini orang tua pun perlu memahamkan tentang rukun iman ke-enam, tentang takdir baik dan buruk. Bahwasanya segala takdir kita telah tertulis di Lauhul Mahfudz. Persoalan kematian adalah sebuah kepastian. Dan setiap makhluk bernyawa akan melaluinya. Tentang jalan menuju kematian telah digariskan olehNya. Sebesar apapun usaha kita menghindari jika telah ditakdirkan maka kita tak akan mampu lari darinya. Sebaliknya jika sebuah musibah tidak ditakdirkan menimpa kita, maka ada saja cara Allah melindungi hambanya. Bukankah tidak setiap yang mendapat musibah gempa akan cacat atau mati? Demikian pula tidak semua yang aman dari gempa terhindar dari kecacatan dan kematian.

Baca Juga  Puasa Setahun Penuh

Wallahu a’lam

Silakan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here