Metode Belajar Islam Bagi Pemula

Pertanyaan :

Bagaimana Cara Belajar Islam Bagi Pemula?

Jawaban :

Bismillaah

Walhamdulillaah washshalaatu wassalaamu ‘alaa rosuulillaah, amma ba’du.

Cara Belajar Islam Bagi Pemula:

1. Sedikit demi sedikit, tidak dalam jumlah banyak sekaligus.

2. Al-Aham fal muhim, yang paling penting kemudian yang penting.

3. Bertahap, ilmu dasar kemudian ilmu tingkatan selanjutnya.

4. Punya guru, agar memperbaiki kesalahan, dan memahamkan lebih banyak dan lebih baik.

5. Baca buku ringkasan sebelum tebal dan panjang, supaya tidak bosan dan tidak cepat patah semangat.

Penjelasan :

Alhamdulillah, puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah Ta’ala yang memberikan nikmat begitu banyak dan mahal, tidak ada yang mampu menghitung dan membayar semua nikmat tersebut.

Shalawat dan salam untuk Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebagai suri teladan ummat, sebagai Nabi dan hamba Allah yang paling mulia, sebagai utusan yang telah mengembang amanah dengan penuh tanggung jawab.

Teman-teman sekalian yang sama mengharapkan rahmat dan kasih sayang Allah Ta’ala.

Sebagai seorang muslim tentunya harus mengetahui tentang apa itu Islam sebagai agamanya, dan apa saja yang dipelajari di dalamnya, serta apa saja yang mesti diamalkan juga didakwahkan.

Seorang muslim haruslah belajar tentang agamanya, apatahlagi pelajaran-pelajaran yang merupakan pokok kehidupannya, seperti apa itu syahadatain, dan apa konsekwensinya?, seperti apa itu shalat, dan apasaja yang perlu diperhatikan darinya?, seperti apa itu zakat, puasa, haji, jual beli, sewa menyewa, hukum usrah, hukum pidana, dan pelajaran lainnya.

Ada 5 hal yang ingin kami sampaikan dalam belajar islam untuk pemula.

Pertama: Secara sedikit demi sedikit.

Yang dimana perlu dengan yang namanya kesabaran, karena tidak sabarnya seseorang mampu mematahkan semangat perjalanan dalam belajarnya sehingga menjadi bosan dan putus di tengah jalan.

Perkataan yang terkenal,

مَنْ رَامَ الْعِلْمَ جُمْلَةً ذَهَبَ عَنْهُ جُمْلَةً

“Barangsiapa yang mempelajari ilmu langsung sekaligus dalam jumlah yang banyak, akan banyak pula ilmu yang hilang” (Hilyatu Thalibil ‘Ilmi)

Makanya mengapa Allah Ta’ala turunkan al-Quran kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam secara sedikit demi sedikit, tidak langsung sekaligus

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً ۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ ۖ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا

Dan orang-orang kafir berkata, “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?” Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan dan benar). (Q.S. Al-Furqan: 32]

Kedua: Terpenting kemudian yang penting.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda kepada Muadz bin Jabal radhiyallahu anhu,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ حِينَ بَعَثَهُ إِلَى الْيَمَنِ إِنَّكَ سَتَأْتِي قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ فَإِذَا جِئْتَهُمْ فَادْعُهُمْ إِلَى أَنْ يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, kepada Mu’adz bin Jabal Radhiyalahu’anhu ketika Beliau mengutusnya ke negeri Yaman: “Sesungguhnya kamu akan mendatangi kaum Ahlul Kitab, jika kamu sudah mendatangi mereka maka ajaklah mereka untuk bersaksi tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Jika mereka telah mentaati kamu tentang hal itu, maka beritahukanlah mereka bahwa Allah mewajibkan bagi mereka shalat lima waktu pada setiap hari dan malamnya. Jika mereka telah mena’ati kamu tentang hal itu maka beritahukanlah mereka bahwa Allah mewajibkan bagi mereka zakat yang diambil dari kalangan orang mampu dari mereka dan dibagikan kepada kalangan yang faqir dari mereka. Jika mereka mena’ati kamu dalam hal itu maka janganlah kamu mengambil harta-harta terhormat mereka dan takutlah terhadap do’anya orang yang terzholimi karena antara dia dan Allah tidak ada hijab (pembatas yang menghalangi) nya”. (H.R Bukhari 1395 dan Muslim 19)

Dari hadits ini, mengajarkan kepada kita tentang prioritas dalam berdakwah, maka untuk belajar Islam, lebih diprioritaskan lagi dalam memilih ilmu yang prioritas, ilmu yang jelas pokok dan dasar buat kita adalah ilmu tauhid kemudian setelahnya.

Teman-teman sekalian yang sama mengharapkan ampunan dan penerimaan taubat dari Allah Ta’ala.

Ketiga: Bertahap.

Jangan langsung tingkatan tinggi, mesti dari yang dasar terlebih dahulu, Allah Ta’ala berfirman,

مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ

Tidak mungkin bagi seseorang yang telah diberi kitab oleh Allah, serta hikmah dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia, “Jadilah kamu penyembahku, bukan penyembah Allah,” tetapi (dia berkata), “Jadilah kamu pengabdi-pengabdi Allah, karena kamu mengajarkan kitab dan karena kamu mempelajarinya!” (Q.S. Ali ‘Imran: 79]

الرَّبَّانِيْ الَّذِيْ يُعّلِّمُ النَّاسَ صِغَارَ الْعِلْمِ قَبْلَ كِبَارِهِ

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma bahwa rabbani itu adalah yang mengajarkan manusia dari ilmu dasar sebelum ilmu tingkat tinggi.

Dapat dipahami bahwa ulama rabbani adalah yang mengajar dari ilmu dasar lalu pindah ke ilmu tingkat selanjutnya, maka kita yang menuntut ilmu pun memilih majlis-majlis ilmu dasar, kemudiam pindah ke majlis tingkatan berikutnya.

Jika belajar al-Quran, atau hadits, atau aqidah, atau fiqh, atau bahasa arab, atau siroh, dan seterusnya, jangan melompat ke bab-bab pertengahan sebelum mempelajari terlebih dahulu bab-bab awal.

Keempat: Dengan guru.

Seseorang bisa saja belajar ilmu syar’i hanya dari buku yang dia baca semata. Metode ini memiliki beberapa sisi negatif, di antaranya yaitu butuh waktu yang lama, ilmunya lemah, dan kadang kita jumpai seseorang yang seperti ini banyak terjatuh dalam kesalahan karena lemahnya pemahaman atau karena buku yang dibacanya sesat dan menyesatkan. Oleh karena itu, seseorang perlu belajar dengan bimbingan guru. Dengan adanya guru, maka dialah yang akan membimbing dan membetulkan jika ada kesalahan dan waktu yang dibutuhkan untuk belajar menjadi lebih singkat. Belajar langsung dengan guru, memliki beberapa faedah:

  1. Menempuh jalan yang lebih singkat

  2. Lebih cepat dan lebih banyak dalam memahami sesuatu

  3. Terjalin hubungan batin antara penuntut ilmu dengan ulama. [Diringkas dari Kitaabul ‘ilmi, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah]

Kelima: Dengan membaca dan mengkaji buku-buku ringkasan sebelum buku-buku tebal dan panjang

Teman-teman sekalian yang sama mengharapkan kebaikan dunia dan akhirat.

Inilah yang bisa kami sampaikan, mudah-mudahan ada manfaatnya

Wallahu a’lam
Abu Hanaa

Sumber: Klik

Sumber https://syadly.com/bagaimana-metode-belajar-islam-bagi-pemula/

Baca Juga  LAUT PUN TUNDUK

Silakan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here