KESYIRIKAN SESAJEN (MAPPANO’, MACCERA, MAPPADARA, MAPPALLEPPE’)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Para pembaca yang dimuliakan Allah, kali ini kita akan membahas masalah sesajen, terkhusus di daerah bugis, ritual sesajen memiliki banyak istilah (Mappano, Maccera’, mappaddara dan mappalleppe)

Perlu dipahami bahwa ritual ritual di atas adalah hal yg tidak asing lagi di masyarakat, cuman yang sangat disayangkan kegiatan ini biasa dibungkus dengan nama syukuran dan tola’ bala.

Sebelumnya kita bahas sedikit istilah istilah dalam bahasa bugis, agar kita memahami penyimpangan yang ada dalam ritual ini.

⛔️-Mappano adalah tradisi dan ritual yang dilaksanakan masyarakat bugis dimana dalam pelaksanaannya mempunyai tata cara yang runtut, tradisi mappano dimana masyarakat menyiapkan sesaji yang akan
disuguhkan yang terdiri dari, sokko patanrupa, tello (telur), ota (daun sirih), jenis sokko patanrupa yaitu sokko bolong, sokko pute, sokko onnyi,
sokko cella, sokko patanrupa semuanya mempunyai makna tersendiri
dalam kandungan warnanya yaitu:


1) Sokko bolong (nasi ketan hitam) yang mempunyai makna sebagai
tanah.
2) Sokko pute (nasi ketan putih), yang mempunyai makna sebagai air.
3) Sokko cella (nasi ketan merah), yang mempunyai makna sebagai api.
4) Sokko onnyi (nasi ketan kuning) mempunyai makna sebagai angin.
Sokko ini kemudian diapitkan, sokko bolong berimpit dengan sokko
pute, serta sokko cella berimpit dengan kuning, kemudian diatas sokko yang berimpitan diletakkan tello (telur).

Setelah tahap persiapan masyarakat kemudian memanggil dukun yang lazim disebut sanro pada masyarakat Bugis untuk memberikan mantra pada makanan tersebut atau dalam masyarakat bugis sering disebut baca doangna sanro, sanro ini akan meminta izin lebih dahulu kepada penguasa atau makhluk gaib atas tujuannya yang ingin memberikan sesaji sebagai rasa penghormatan dan penghargaan agar dalam pelaksanaan tradisi ini tidak berjalan sia-sia. Setelah itu masyarakat kemudian membawa suguhannya ke sungai atau perairan yang ia percaya terdapat penguasa atau makhluk gaib dengan membuatkan sebuah wadah lopi bura’ biasa juga wala, kemudian menaruh makanan tersebut dan mengalirkannya baik di sungai, laut bahkan biasa disumur.

⛔️Mappalleppe adalah tradisi dan ritual dalam masyarakat bugis yg hampir mirip dengan mappano, cuman bedanya mappano dilakukan di air,sungai, sumur, laut., Sedangkan mappaleppe biasanya pemberian sesajennya adalah ditempat dimana pemberi sesajen dulu membuat perjanjian atas sesuatu, jika keinginannya tercapai maka ia akan kembali memberis sesajen atau tumbal, jadi mappaleppe kadang di gunung, sumur keramat, kuburan, dukun.tergantung di mana dulu dia bernazar.

⛔️ Maccera adalah tradisi dan ritual pada masyarakat bugis, yang dimana dalam pelaksanaanya mengharuskan adanya penetesan darah, apakah berupa darah ayam, kambing, sapi dan kerbau, biasanya ritual ini dilaksanakan untuk penyembelihan hewan yg akan diambil darahnya untuk benda atau tempat yg dikeramatkan dan bahkan benda benda baru.maka istilah maccera banyak macamnya.
maccera tasi, maccera tappareng, maccera mattaungeng, maccera manurung, maccera bola, maccera jambatan, maccera oto, maccera paberre dll.

“PENTING UNTUK DIPAHAMI” kami tidaklah melarang adanya syukuran semisal syukuran rumah baru, motor baru, pabrik baru dll, tapi yg kami bahas adalah adanya ritual penetesan darah, pemotongan hewan yg diambil sebagian darahnya bahkan diambil sebagian tubuhnya biasa kepalanya kemudian ditanam atau dibawah ketempat atau benda yg dianggap keramat, dan perlu dipahami sembelihan seperti ini haram untuk dimakan.

Para pembaca yang dimuliakan Allah, ketahuilah ritual sesajen (mappano, maccera, Mappaddara, mappalleppe atau istilah lainya) adalah kebiasaan syirik (menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan makhluk) yang sudah berlangsung turun-temurun di masyarakat kita.

Mereka meyakini makhluk halus tersebut punya kemampuan untuk memberikan kebaikan atau menimpakan malapetaka kepada siapa saja, sehingga dengan mempersembahkan tumbal atau sesajen tersebut mereka berharap dapat meredam kemarahan makhluk halus itu dan agar segala permohonan mereka dipenuhinya.

Kebiasan ini sudah ada sejak zaman Jahiliyah sebelum Allah mengutus Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menegakkan tauhid (peribadatan/penghambaan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata) dan memerangi syirik dalam segala bentuknya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

“Dan bahwasannya ada beberapa orang dari (kalangan) manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari (kalangan) jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (Qs. al-Jin: 6).

Artinya, orang-orang di zaman Jahiliyah meminta perlindungan kepada para jin dengan mempersembahkan ibadah dan penghambaan diri kepada para jin tersebut, seperti menyembelih hewan kurban (sebagai tumbal), bernadzar, meminta pertolongan dan lain-lain.

Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الإنْسِ، وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُمْ مِنَ الإنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا، قَالَ النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ

“Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya, (dan Dia berfirman), ‘Hai golongan jin (syaitan), sesungguhnya kamu telah banyak (menyesatkan) manusia,’ lalu berkatalah teman-teman dekat mereka dari golongan manusia (para dukun dan tukang sihir), ‘Ya Rabb kami, sesungguhnya sebagian dari kami telah mendapatkan kesenangan/manfaat dari sebagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami.’ Allah berfirman, ‘Neraka itulah tempat tinggal kalian, sedang kalian kekal didalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain).’ Sesungguhnya Rabb-mu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS al-An’aam:128).

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata, “Jin (syaitan) mendapatkan kesenangan dengan manusia menaatinya, menyembahnya, mengagungkannya dan berlindung kepadanya (berbuat syirik dan kufur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala). Sedangkan manusia mendapatkan kesenangan dengan dipenuhi dan tercapainya keinginannya dengan sebab bantuan dari para jin untuk memuaskan keinginannya. Maka, orang yang menghambakan diri pada jin, (sebagai imbalannya) jin tersebut akan membantunya dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.

Jadi, meskipun kurban yang dipersembahkan sangat kecil dan sepele, seperti seekor lalat sekalipun, jika disertai dengan pengagungan dan ketakutan dalam hati kepada selain-Nya, maka ini juga termasuk perbuatan syirik besar .

Dalam sebuah atsar dari Sahabat mulia, Salmân al-Farisi Radhiyallahu anhu beliau berkata: “Ada orang yang masuk surga karena seekor lalat dan ada yang masuk neraka karena seekor lalat, ada dua orang yang melewati (daerah) suatu kaum yang sedang bersemedi (menyembah) berhala mereka dan mereka mengatakan: “Tidak ada seorang pun yang boleh melewati (daerah) kita hari ini kecuali setelah dia mempersembahkan sesuatu (sebagai kurban/tumbal untuk berhala kita)”. Maka mereka berkata kepada orang yang pertama: “Persembahkanlah sesuatu (untuk berhala kami)!”, tapi orang itu enggan – dalam riwayat lain: orang itu berkata: “Aku tidak akan berkurban kepada siapapun selain Allah Azza wa Jalla –. Maka dia pun dibunuh (kemudian dia masuk surga). Lalu mereka berkata kepada orang yang kedua: “Persembahkanlah sesuatu (untuk berhala kami)!”, Dalam riwayat lain: orang itu berkata: “Aku tidak mempunyai sesuatu untuk dikurbankan” Maka mereka berkata lagi: “Persembahkanlah sesuatu meskipun (hanya) seekor lalat!”. (Dengan menyepelekan), orang itu berkata: “Apalah artinya seekor lalat”. Lalu dia pun berkurban dengan seekor lalat.

Dalam riwayat lain: maka mereka pun mengizinkannya lewat, kemudian (di akhirat) dia masuk neraka”

Terakhir dari tulisan ini, kami mengajak kepada saudaraku yg membaca artikel ini, agar secepatnya meninggalkan ritual ini dan kami mengajak kepada pembaca untuk senantiasa memperdalam ilmu agama, alhamdulillah, Allah telah mempermudah kita untuk mempelajari agamanya, berbagai kajian telah tersebar dimana mana, apakah lewat dunia nyata maupun lewat dunia maya, dan memohon ampunlan sebelum terlambat, sungguh Allah maha pengampun lagi maha penyayang.

Allah berfirman

اِلَّا مَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًاصَالِحًـا فَاُولٰٓٮِٕكَ يُبَدِّلُ اللّٰهُ سَيِّاٰتِهِمْ حَسَنٰتٍ‌ ؕ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا

“kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu, kejahatan mereka diganti Allah dengan pahala kebajikan. Dan sungguh Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Dan senantiasa memperbanyak berdoa untuk berlindung dari bahaya kesyirikan.

Dengan senantiasa membaca doa yang dianjurkan oleh rasulullah.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ

“Yaa Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepada Mu dari berbuat kesyirikan ketika aku mengetahuinya dan aku memohon ampunan Mu ketika aku tidak mengetahuinya”. (HR. Bukhari)

Akhukum
Rahmat Abu Uwais.

Baca Juga  KOPERASI KAMI DAN YAYASAN PENDIDIKAN ISLAM WAHDAH ISLAMIYAH PINRANG SALURKAN CSR UNTUK PEMBELIAN PUSAT DAKWAH

Silakan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here