HUKUM MEMBAKAR KEMENYAN (BUGIS “DUPA/ RUMPU-RUMPU”)

Bismillah
Pembahasan kali ini, kita akan membahas tentang permasalahan kemenyan/ dupa/ rumpu-rumpu, yang kami olah dari beberapa artikel, agar kita bisa memahami apakah pembakaran kemenyan yang kita lakukan masuk dalam kategori Sunnah, Bid’ah atau Kesyirikan.

Saran mohon dibaca dengan tuntas kemudian dishare.

Sahabat yang dimuliakan allah, kita pasti sering melihat pembakaran kemenyan/ dupa dengan kata lain hal semacam ini tidak asing lagi bagi kita.

Dalam masyarakat pada umumnya kemenyan itu identik dengan sesuatu yang berbau mistik, bid’ah dan beragam nilai syirik lainnya. Bahkan kemenyan itu sering dihubungkan dengan dunia perdukunan, tenung dan lain sebagainya untuk mendatangkan sang sahabat berupa jin atau syaitan.

Inilah yg biasa membedakan pembakaran kemenyan antara orang awam dan orang berilmu, pembakaran kemenyan bagi orang awam kadang dibumbui dengan ritual ritual mistik, sedangkan orang berilmu hanya digunakan sebagai pengharum ruangan.

Namun perlu dipahami telah menjadi tradisi oleh sebagian besar masyarakat Islam untuk membakar kemenyan pada ritual-ritual tertentu,seperti kala berdoa,saat berzikir,ziarah kubur,perkawinan,pada acara tahlilan peringatan hari kematian dan sebagainya.Bahkan ada yang membakar kemenyan secara rutin pada waktu-waktu tertentu sebagai pengusir roh atau untuk medapatkan keselamatan (orang bugis mengkhusukan di malam jum’at, kadang di posi’bola (tiang rumah tengah) dan kadang dibawah tangga.Tradisi bakar kemenyang bukan hanya dilakukan oleh masyarakat Islam Indonesia tetapi juga oleh masyarakat Islam lainnya termasuk di negara-negara Arab.lalu bagaimana hukum membakar kemenyang itu

Berikut kami nukilkan bahwa kemenyan sudah ada di jaman rasulullah, tak lain tak bukan hanya untuk pengharum.

Misalnya hadits shohih riwayat Imam Muslim dan Imam Al-Bukhari berikut ini :

عَنْ نَافِعٍ، قَالَ: كَانَ ابْنُ عُمَرَ «إِذَا اسْتَجْمَرَ اسْتَجْمَرَ بِالْأَلُوةِ، غَيْرَ مُطَراةٍ وَبِكَافُورٍ، يَطْرَحُهُ مَعَ الْأَلُوةِ» ثُم قَالَ: «هَكَذَا كَانَ يَسْتَجْمِرُ رَسُولُ اللهِ صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلمَ

Dari Nafi’, ia berkata, “Apabila Ibnu Umar mengukup mayat (membakar kemenyan), maka beliau mengukupnya dengan kayu gaharu yang tidak dihaluskan, dan dengan kapur barus yang dicampurkan dengan kapur barus. Kemudian beliau berkata, “Beginilah cara Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam ketika mengukup jenazah (membakar kemenyan untuk mayat)”. (HR. Muslim).

Dan dijelaskan pula oleh Al Imam Adz Dzahabi rahimahullah beliau pernah menyebutkan dalam kitabnya Siyar A’lam An-Nubala’ (5 /22 ) tentang biografi Nu’aim Bin Abdillah Al-Mujammar, sebagai berikut :

نعيم بن عبد الله المجمر المدني الفقيه ، مولى آل عمر بن الخطاب ، كان يبخر مسجد النبي صلى الله عليه وسلم .

Nu’aim Bin Abdillah Al-Mujammar, ahli Madinah, seorang faqih, Maula (bekas budak) keluarga Umar Bin Khattab. Ia membakar kemenyan untuk membuat harum Masjid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam”

Sehingga menghukumi tradisi membakar kemenyan tentu kita tidak hanya melihat dari amalannya saja yaitu membakar kemenyan,akan tetapi perlu dikembalikan kepada niat (maksud dan tujuan) masing-masing,karena segala amalan tergantung pada niatnya (HR.Bukhari),kalau niatnya sesuai sunnah maka hukumnya boleh atau sunnah,tetapi kalau niatnya bertentangan dengan sunnah maka hukumnya tidak boleh atau mungkin haram.Jadi kita boleh langsung memvonis bahwa orang yang membakar kemenyan melakukan kemusyrikan,tetapi tergantung pada niatnya.

Menurut sejarahnya,membakar kemenyan telah ada pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tujuannya adalah untuk mengharumkan ruangan atau melawan bau tak sedap pada suatu benda atau tempat..Kemenyan yang berasal dari kayu gaharu atau getah pohon damar merupakan bahan pengharum yang alami. Di Arabia dan Syam, kemenyan ditempatkan dalam wadah-wadah cantik untuk mengharumkan ruang-ruang istana dan rumah-rumah. Dan di Asia Selatan dan Asia Timur, kemenyan dibakar dalam kuil-kuil sebagai sarana peribadatan. Membakar kemenyan sering pula dilakukan dalam peribadatan umat agama lain,atau oleh dukun-dukun/ paranormal dalam melakukan praktek perdukunan. Pembakaran kemenyan oleh umat Islam di tanah air atau di Arab dengan yang dilakukan oleh umat agama lain atau oleh dukun-dukun/ paranormal tentu tidak dihukumi sama, karena niat atau tujuannya berbeda.

Berikut penulis kemukakan beberapa niat atau tujuan seseorang membakar kemenyan dan hukumnya, antara lain:

1. Membakar kemenyan dengan tujuan untuk mengharumkan ruangan atau pakaian, baik untuk melaksanakan suatu ibadah atau tidak maka hukumnya boleh dan bahkan sunnah,dalilnya adalah:

“Dari Nafi’, ia berkata, “Apabila Ibnu Umar mengukup mayat (membakar kemenyan), maka beliau mengukupnya dengan kayu gaharu yang tidak dihaluskan, dan dengan kapur barus yang dicampurkan dengan kapur barus. Kemudian beliau berkata, “Beginilah cara Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam ketika mengukup jenazah (membakar kemenyan untuk mayat)”. (HR. Muslim).

“Dari Abi Hurairah radliyalahu ‘anh, bahwa Rosulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda : “Golongan penghuni surga yang pertama kali masuk surga adalah berbentuk rupa bulan pada malam bulan purnama, … (sampai ucapan beliau) …, nyala perdupaan mereka adalah gaharu,” (HR. Bukhari).

Dalam hadist lain, beliau bersabda :

Artinya : “Barang siapa ditawarkan kepadanya (diberi) wangi-wangian yang harum (minyak wangi, parfum dan sebagainya), janganlah menolaknya. Sesungguhnya barang itu sedap baunya dan mudah dibawahnya.

Ibnu Umar (sahabat Nabi) sering berukup atau mengasapi diri dengan membakar wangi-wangian, seperti dupa dan sebagainya, sambil berkata : “ Demikian saya melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengukupi dirinya dengan wangi-wangian yang diletakan diatas tempat bara api (H.R Muslim dan Nasa’i).

2. Membakar kemenyang sebagai penyempurna doa,karena diyakini doa tidak sempurna atau tidak bakal terkabul bila tanpa membakar kemenyang maka hukumnya bid’ah atau sesat karena bertentangan syariat Islam tentang cara berdoa.Cara berdoa yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya tidak mensyaratkan adanya wewangan atau kemenyan, melainkan dengan cara:

“Katakanlah “ berdoalah kepada tuhanmu dengan merendahkan diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” ( QS. Al A’raaf : 55 ).

“Hanya milik Allahlah Asma-ul Husna, maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut Asma-ul Husna itu (QS. Al A’raaf : 180 )

“Palingkanlah mukamu ke arah masjidil haram dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya” (QS. Al Baqarah : 144).

3. Membakar kemenyang dengan tujuan untuk memanggil arwah nenek moyang maka hukumnya bid’ah atau sesat karena arwah nenek moyang yang jazadnya telah terkubur mustahil akan kembali ke dunia.Mereka tidak akan bisa meninggalkan tempatnya (alam kubur) sampai datangnya hari kebangkitan (kiamat),dalilnya adalah:

“Sehingga apabila kematian telah datang kepada salah seorang dari mereka, maka dia berkata: Wahai Tuhanku, kembalikanlah daku; supaya aku mengerjakan amal-amal shalih dalam perkara-perkara yang telah aku tinggalkan. Tidak! Masakan dapat? Sesungguhnya perkataannya itu hanyalah kata-kata yang ia saja yang mengatakannya, sedang di hadapan mereka barzakh (yang mereka tinggal tetap padanya) hingga hari nereka dibangkitkan semula (pada hari kiamat)”(QS . Al Mu’minun ayat 99 – 100).

Jadi kalau ada orang yang mengaku dapat mendatangkan roh dengan membakar kemenyang atau dengan cara yang lain,maka yang datang itu adalah setan dari bangsa jin yang mengaku sebagai roh orang yang telah mati.

4. Membakar kemenyang dengan tujuan untuk mengusir roh jahat,untuk mendapatkan berkah,atau untuk tujuan keselamatan maka hukumnya adalah haram dan syirik, karena termasuk mempersekutukan Allah,sebab Allahlah sebagai pelindung segala makhluk.Segala harapan kita,baik berupa perlindungan dari kejahatan,memperoleh berkah atau keselamatan hendaknya ditujukan kepada Allah saja dan tidak kepada makhluk-Nya.

“Bila Hamba-hamba-ku bertanya tentang Aku, maka sesungguhnya Aku ini adalah dekat. Aku akan mengabulkan doa orang-orang yang berdoa kepada-Ku. Oleh karena itu, memohonlah kepada-Ku untuk dikabulkan” (QS. Al Baqarah : 186)

5. Membakar kemenyan dengan maksud mengikuti tradisi semata karena dilakukan oleh orang banyak,tanpa ada pengetahuan atasnya maka itu dilarang oleh Allah.
“Janganlah kamu mengikuti apa-apa yang tidak ada pengetahuanmu atasnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati akan dimintai pertanggung jawaban” (QS. Al Israa : 36).

“Jika kamu mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah” (QS. Al An’aam : 116).

Jadi bila melihat seseorang membakar kemenyan baik di rumah maupun di temapt ibadah,maka janganlah langsung menvonisnya sebagai bid’ah atau syirik melainkan ketahuilah maksud dan tujuannya,yaitu:

a. Seseorang yang sudah terbiasa bakar kemenyan dan waktunya tidak menentu,kecuali merindukan keharuman kemenyan atau mengharumkan rauangan semata,maka itu tidak termasuk bid’ah dan bahkan sunnah bila dimaksudkan mengharumkan ruangan untuk kenyamanan ibadah.

b. Seseorang yang tidak bisa bakar kemenyan kecuali kalau hendak berdoa tau menyuruh orang lain berdoa (assuro ammaca),dan berdoa tidak dilakukan sebelum kemenyan belum tersedia,maka berarti orang tersebut menganggap kemenyan sebagai penyempurna doa,maka bisa dikatakan itu dalam bid’ah.

c. Seseorang secara rutin membakar kemenyan pada waktu tertentu (seperti pada malam Senin,malam Kamis atau malam Jumat),ditempat tertentu (seperti di belakang rumah atau di kuburan) itu sudah mengarah kepada kesyirikan karena adanya keharusan melakukan yang mungkin karena takut bila tidak melakukannya,atau mengharap sesuatu dari amalannya tersebut.
d. Seorang yang berprofesi dukun/paranormal yang dalam melakukan prakteknya membakar kemenyan sebagai salah satu syarat ritual untuk mengundang roh penolongnya,atau pengundang arwah,pengundang berkah,pengusir kejahatan yang pada hakikatnya yang diundang adalah syetan dan sebagainya adalah termasuk kesyirikan.Dan amalan ini termasuk peniruan kepada umat Agama lain.

Berdasarkan uraian tersebut di atas,maka jelaslah bahwa sesat tidaknya ritual bakar kemenyan tergantung pada niat atau maksud dan tujuan seseorang.Wallahu a’lam,semoga Allah memberi petunjuk kepada kita semua.

Mudah mudahan tidak lagi ada yang gagal paham, dan sudah bisa membedakan mana pembakaran kemenyan yg diperbolehkan dan mana yang diharamkan

Terakhir dari pembahasan ini, kami mengajak kepada pembaca untuk senantiasa memperdalam ilmu agama, alhamdulillah, Allah telah mempermudah kita untuk mempelajari agamanya, berbagai kajian telah tersebar dimana mana, apakah lewat dunia nyata maupun lewat dunia maya, dan bertobatlah sebelum terlambat, sungguh Allah maha pengampun lagi maha penyayang.

Allah berfirman

اِلَّا مَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًاصَالِحًـا فَاُولٰٓٮِٕكَ يُبَدِّلُ اللّٰهُ سَيِّاٰتِهِمْ حَسَنٰتٍ‌ ؕ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا

“kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
[QS. Al-Furqan: Ayat 70]

Tulisan ini diolah dari berbagai artikel

Afwan
Sahabatmu
Ustadz Rahmat Abu Uwais Hafizhahullah

Baca Juga  Hadits Suara Dahsyat di Pertengahan Bulan Ramadhan

Silakan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here