Adab-Adab Imam dan Makmum

*📗Umdatul ahkam (adab” imam dan makmum)*
*🎙Ustadz Muhammad Syahrir.,Lc حفظه الله*

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ,
_”Apakah orang” yang mendahului imam(mengangkat kepalanya sebelum imam mengangkat kepalanya). Apakah mereka tidak takut kalau nanti Alloh Subhanahu wa Ta’ala akan merubah kepala mereka menjadi kepala keledai atau Alloh akan merubah wajah mereka seperti wajah keledai.”_
(HR. Muslim)

Ini merupakan ancaman yang sangat keras kepada orang” yang mendahului imamnya. Mendahului imam dalam sholat dengan sengaja merupakan dosa.

Mendahului imam membatalkan sholat (tidak sah). Yaitu saat mendahului imam dalam 2 gerakan.
>Mendahului imam dalam takbirotul ihrom , sholatnya tidak sah entah sengaja atau tidak sengaja. Ketika melakukannya dengan tidak sengaja dan nanti kemudian tersadar ketika sudah sholat maka harus keluar dari sholatnya kemudian berniat dan masuk kembali
>Mendahului imam salam(salam pertama). Ini membatalkan sholat karena salam pertama sifatnya rukun. Adapun salam kedua sifatnya anjuran

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ,
_”Sesungguhnya Imam diangkat untuk diikuti maka janganlah kalian menyelisihinya. Kalau imam sudah takbir maka takbirlah. Kalau imam sudah ruku’ maka ruku’lah dan kalau imam mengatakan ‘sami’allahu liman hamidah’ maka katakanlah ‘Robbana walakal hamdu’. Kalau imam sudah sujud maka sujudlah dan kalau imamnya sholat dengan duduk maka sholatlah juga kalian dengan duduk.”_
(Muttafaqun ‘alaih)

Antara makmum dan imam ada 4 hal :
>Mengikuti gerakan imam tanpa mendahuluinya (boleh)
>Bersamaan dengan gerakan imam (tidak boleh)
>Mendahului gerakan imam (tidak boleh)
>Terlalu terlambat dari gerakan imam sampai ketinggalan satu rukun (tidak boleh)

Syaikh ‘Utsaimin dan Imam Ahmad rahimahullah mengatakan ,
*”Jama’ah yang ketinggalan satu rukun dari imam maka sholatnya batal”*

Kalau misalnya imamnya cepat maka kita berusaha untuk menyesuaikan diri membaca dengan cepat supaya tidak ketinggalan dari imam. Kecuali kalau imam sangat cepat sehingga tidak tumakninah sementara tumakninah merupakan rukun sholat maka kita tidak sholat dimesjid tersebut karena konsekuensinya sholat kita tidak sah.

Baca Juga  Zuhud Terhadap Dunia

Ukuran _tumakninah_ adalah ketika ruku’ dan sujud maka kita ruku’ dan sujud sampai sudah lurus punggung, jangan belum sempurna kemudian berdiri lagi atau ketika i’tidal sementara belum sempurna berdirinya kemudian langsung sujud maka ini tidak tumakninah.

Agama islam adalah agama persatuan dan sholat berjama’ah merupakan *minimalis* dari simbol persatuan ummat islam. Ketika ada orang yang _masbuq_ dan mendapati imam sedang sujud maka tidak boleh ia takbirotul ihrom dan membaca alfatihah kemudian ruku’ untuk mengejar ketinggalannya tapi yang dilakukan adalah takbirotul ihrom kemudian langsung sujud bersama imam. Ini adalah gambaran yang sangat jelas bahwa agama islam menganjurkan *persatuan.* Termasuk keta’atan kita kepada pemimpin selama bukan dalam perkara” yang dilarang oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan kalau misalnya imam sedang sakit kemudian sholat dengan duduk maka makmum juga harus sholat dengan duduk walaupun makmum tersebut sanggup berdiri.

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,
_”Rosulullah sholat dirumahnya dalam keadaan sakit parah dan tidak bisa lagi sholat dengan berdiri sehingga sholat dengan duduk sementara orang” di belakangnya sholat dengan berdiri, lalu Rosulullah memberi isyarat kepada mereka untuk sholat dengan duduk.”_

Ini menunjukkan tentang bolehnya memberikan isyarat dalam sholat selama isyaratnya tidak berlebihan yang akan mempengaruhi gerakan” sholat yang dikerjakan. Misalnya ada yang mengucapkan salam maka kita menjawabnya dengan isyarat tangan atau dengan isyarat suara dengan mengeraskan suara takbir pada saat kita bertakbir supaya orang tersebut mengetahui bahwa kita sedang sholat.

Namun tentu saja bagi imam yang tidak sanggup berdiri maka lebih baik menyuruh orang lain untuk menggantikannya agar mendapatkan sholat yang sempurna.

Ketika Rosulullah tidak mampu lagi mengimami para sahabatnya maka Rosulullah memerintahkan Abu Bakr ash-shiddiq untuk memimpin sholat berjama’ah dan ini juga isyarat dari Rosulullah bahwa yang berhak menjadi _khalifah_ sepeninggal Beliau adalah Abu Bakr ash-shiddiq radhiyallahu ‘anhu.

Baca Juga  Shalat Sunnah Rawatib

‘Abdullah bin Yazid berkata bahwa al-Bara bin ‘Azib berkata,
_”Ketika Rosulullah sudah mengucapkan ‘sami’allahu liman hamidah’, para sahabat berdiri dan mereka senantiasa berdiri sampai Rosulullah sujud, barulah kemudian para sahabat mengikutinya.”_

Ini salah satu gambaran _mutaba’ah_ (mengikuti) imam sujud. Tidak boleh bersamaan atau mendahului imam untuk sujud.

Rasulullah bersabda ,
_”Kalau imam sudah mengucapkan aamiin, maka ucapkanlah juga aamiin. Karena siapa yang ucapan aminnya bersamaan dengan aminnya malaikat, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.”_

Sunnahnya mengucapkan aamiin ketika selesai membaca surah alfatihah dalam sholat. Ini sunnah bagi imam dan juga makmum. Karena terkadang ada imam yang tidak mengucap aamiin atau mengucapnya namun tidak _menjahrkan_ suaranya. Namun yang benar ialah imam juga juga mengucapnya dan menjahrkan (mengeraskan) suaranya tentu saja pada sholat” yang sifatnya jahriyah.

_Aamiin_ artinya (kabulkanlah) karena dalam surah alfatihah mengandung doa dan juga kita mengambil pelajaran di antara adab” berdoa ialah memulai dengan _tahmid_ (pujian untuk Alloh). Kemudian menyebut Nama” Alloh yang sesuai dengan apa yang kita minta.

Termasuk di antara sebab dikabulkannya doa adalah mendahului doa dengan menyebutkan nama” dan sifat” Alloh (bertawassul kepada Alloh).

Alloh berfirman :
*”Hanya milik Alloh asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut asmaa-ul husna itu..”*
(QS. Al-A’rāf :180)

Ucapan aamiin makmum tidak bersamaan persis dengan ucapan aminnya imam. Nanti para makmum mengucapkan amiin setelah mendengarkan ucapannya imam. Makmum tidak boleh mendahului imam dalam segala perbuatan” dalam sholat.

Mungkin ada yang bertanya, bagaimana mengetahui ucapan amin kita sudah bersamaan dengan ucapannya malaikat? Ya kita berusaha saja dan berharap semoga bersamaan. Adapun kalau tidak mengucapkannya sama sekali otomatis tidak akan bisa bersamaan.

Baca Juga  KESYIRIKAN DALAM MASJID

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata,
Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
_”Kalau di antara kalian mengimami orang”, maka hendaknya ia meringankannya. Karena di antara mereka ada yang lemah, sakit, dan orang tua. Namun kalau ia sholat sendiri, maka silahkan memperpanjang sesukanya.”_

Ini adabnya ketika mengimami orang lain dalam sholat lima waktu. Jangan memanjangkan bacaan semaunya sehingga kadang ada orang dibelakang yang gelisah atau ada yang sedang sakit. Adapun kalau sholat sendiri mau panjang bagaimanapun silahkan.

Abu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu , seseorang datang kepada Rosulullah berkata, _”Wahai Rosulullah, saya sengaja untuk selalu terlambat sholat subuh karena bacaan imam tersebut panjang sekali.”_

Abu Mas’ud berkata, _”Saya tidak pernah melihat Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat marah ketika menegur seseorang melebihi kemarahan Beliau pada imam tersebut.”_

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda , *”Wahai manusia, sesungguhnya ada di antara kalian yang suka membuat orang lari !! Siapa pun di antara kalian mengimami manusia, hendaklah ia meringankan sholatnya !! Karena di antara mereka ada orang tua, anak kecil, dan orang yang punya kebutuhan.”*

Tentu saja panjang pendeknya bacaan bukan dengan standart kita tapi kembalikan kepada standart Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
>Rosulullah ketika sholat subuh membaca 60 sampai 100 ayat dalam dua raka’at, sekitar 3 sampai 5 lembar.
Tapi kalau misalnya ada imam yang membaca dua lembar dalam sholat subuh maka ini masih wajar. Karena dalam sholat subuh disunnahkan memanjangkan bacaan. Jangan langsung mengeluh mengatakan, *”Wah panjang sekali ini sudah membuat orang lari.” Tidak !! Yang membuatnya lari adalah keimanannya yang mungkin masih perlu dicas :)*

Wallahu a’lam

Akhukum Harianto Madia Hafizhahullah

Silakan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here