Setiap orang pasti akan melakukan safar, bahkan mungkin setiap hari. Baik sifatnya belajar, bekerja, dan tujuan lainya. Memang saat ini siapapun bisa menempuh perjalanan terjauh di dunia hanya dengan hitungan hari atau jam. Namun demikian, seiring dengan kemudahan yang dikaruniakan Allah Ta’ala kepada kita, tidaklah lantas membuat kita mengabaikan adab-adab safar yang telah dituntunkan syariat.

Adab safar sangat banyak, diantaranya :
1. Seorang yang berniat safar, hendaknya memulai dengan tobat dari semua dosanya, meminta maaf  jika ada kesalahan, membayar hutang, menuliskan wasiat, memberikan nafkah yang cukup kepada keluarganya selama kepergiannya, dan shalat istikharah. Sebagaimana hadits Jabir -radhiyallahu’anhu- riwayat al-Bukhari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الفَرِيْضَةِ ثُمَّ يَقُوْلُ : اللَّهُمَّ إِنيِّ أسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأسْألُكَ مِنْ فَضْلِكَ العَظِيمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أقْدِر وَتَعْلمُ وَلاَ أعْلَمُ وَأَنْتَ عَلاَّمُ الغُيُوب. اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ خَيْرٌ ليِ فيِ دِيْنِي وَمَعَاشيِ وَعَاقِبَةُ أَمْرِي فَاقْدرْهُ ليِ وَيَسِّرْهُ ليِ ثُمَّ بَارِكْ ليِ فِيْهِ وَإِنْ كنُتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ شَرٌّليِ فيِ دِيْنِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةُ أَمْرِي فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنيِ عَنْهُ وَاقْدِرْ ليِ الخَيْر حَيْثُ كَانَ ثُمَّ ارْضِنيِ بِهِ

“Jika salah seorang di antara kalian bermaksud melakukan suatu hal, hendaklah dia melaksanakan shalat dua rakaat selain fardhu, kemudian hendaklah ia berdoa :Ya Allah, aku memohon dipilihkan dengan ilmu-Mu. Aku bermohon penilaian dengan kekuasaan-Mu. Dan meminta dengan keutamaan-Mu yang Agung. Sesungguhnya Engkau berkuasa dan aku tidak berkuasa. Engkau Maha Mengetahui dan aku tidak mengetahui. Dan Engkau Maha Mengetahui hal-hal yang ghaib”.





2. Dianjurkan safar berjama’ah dan tidak sendirian. Bersama dengan orang yang baik dimana bisa mengingatkannya jika lupa dan saling tolong-menolong. Sebagaimana hadits Ibnu Umar -radhiyallahu’anhu- riwayat al-Tirmidzi dengan sanad yang Hasan Shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَوْ أَنَّ النَّاسَ يَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ مِنَ الْوَحْدَةِ مَا سَرَى رَاكِبٌ بِلَيْلٍ

“Seandainya manusia tahu apa yang aku ketahui pada safar sendirian, maka tidak akan ada yang berani berjalan di malam hari”.


3. Hendaknya safar di hari Kamis pagi, sebagaimana hadits Ka’ab bin Malik riwayat al-Bukhari :

أَنَّ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُحِبُّ أَنْ يَخْرُجَ يَوْمَ الْخَمِيسِ

“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam suka safar hari kamis”.
Dalam riwayat lainnya :

أَقَل مَا كَانَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ إِلاَّ يَوْمَ الْخَمِيسِ

“Tidak ada hari yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam paling jarang safar di dalamnya kecuali hari kamis”.

Jika tidak memungkinkan maka hari Senin pagi, sebagaimana hadits Ibnu Abbas -radhiyallahu’anhu- riwayat Ahmad dan al-Thabrani :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَاجَرَ مِنْ مَكَّةَ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ

“Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah dari Makkah ke Madinah di hari Senin”.

Adapun anjuran safar di pagi hari, dalilnya hadits Shakhr al-Ghamidi -radhiyallahu’anhu- riwayat al-Tirmidzi dengan sanad yang Hasan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُِمَّتِي فِي بُكُورِهَا

“Ya Allah, berkahilah ummatku di pagi harinya”.
Perawi hadits ini berkata :

وَكَانَ إِذَا بَعَثَ جَيْشًا أَوْ سَرِيَّةً بَعَثَهُمْ أَوَّل النَّهَارِ، وَكَانَ صَخْرٌ تَاجِرًا وَكَانَ إِذَا بَعَثَ تُجَّارَهُ بَعَثَهُمْ أَوَّل النَّهَارِ، فَأَثْرَى وَكَثُرَ مَالُهُ

“Jika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus pasukan, beliau mengutusnya di pagi hari, dan Sakhr adalah seorang pedagang dimana ia mengutus para karyawannya di pagi hari maka iapun beruntung dan bertambah banyak hartanya”.


4. Dianjurkan juga safar malam hari, sebagaimana hadits Anas -radhiyallahu’anhu- riwayat al-Hakim dengan sanad yang Shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

عَلَيْكُمْ بِالدُّلْجَةِ فَإِنَّ الأَْرْضَ تُطْوَى بِاللَّيْل

“Hendaklah kalian melakukan perjalanan di malam hari, karena seolah-olah bumi itu terlipat (terasa dekat) ketika itu”.



5. Disunnahkan bagi musafir shalat 2 rakaat ketika keluar dan ketika masuk rumahnya, sebagaimana hadits Abu hurairah -radhiyallahu’anhu- riwayat al-Bazzar dengan sanad yang Shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا خَرَجْتَ مِنْ مَنْزِلِكَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ يَمْنَعَانِكَ مِنْ مَخْرَجِ السُّوْءِ وَإِذَا دَخَلْتَ إِلَى مَنْزِلِكَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ يَمْنَعَانِكَ مِنْ مَدْخَلِ السُّوْءِ

“Jika engkau keluar dari rumahmu, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang dengan ini akan menghalangimu dari kejelekan yang berada di luar rumah. Jika engkau memasuki rumahmu, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang akan menghalangimu dari kejelekan yang masuk ke dalam rumah”.


6. Disunnahkan musafir berpamitan dengan keluarga, tetangga, dan sahabatnya, sebagaimana hadits Ibnu Umar -radhiyallahu’anhuma- riwayat Abu Daud dan al-Tirmidzi dengan sanad Hasan Shahih, dengan berkata :

أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ، زَوَّدَكَ اللَّهُ التَّقْوَى وَغَفَرَ لَكَ ذَنْبَكَ وَيَسَّرَ الْخَيْرَ لَكَ حَيْثُمَا كُنْتَ

“Aku menitipkan agama, amanah, dan perbuatan terakhir kalian kepada Allah. Semoga Allah membekalimu dengan ketaqwaan, mengampuni dosamu, memudahkan kebaikan bagimu dimanapun engkau berada”.


Dalam hadits Abdullah bin Yazid al-Khithmi -radhiyallahu’anhu- riwayat Abu Daud dengan sanad yang Shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melepaskan rombongan untuk pergi berperang, beliau berkata :

أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكُمْ وَأَمَانَتَكُمْ وَخَوَاتِيمَ أَعْمَالِكُمْ

“Aku menitipkan agama, amanah, dan perbuatan terakhir kalian kepada Allah”.


Dalam hadits Anas -radhiyallahu’anhu- riwayat al-Tirmidzi dengan sanad yang Hasan :

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَال: يَا رَسُول اللَّهِ إِنِّي أُرِيدُ سَفَرًا فَزَوِّدْنِي. فَقَال: زَوَّدَكَ اللَّهُ التَّقْوَى، فَقَال: زِدْنِي، فَقَال: وَغَفَرَ ذَنْبَكَ، قَال: زِدْنِي. قَال: وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُمَا كُنْتَ

Datang seorang lelaki kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “wahai Rasulullah, aku ingin safar, bekalilah aku do’a”, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Semoga Allah membekalimu ketakwaan”, orang itu berkata, “tambah lagi”, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Semoga Allah mengampuni dosamu”, orang itu berkata, “tambah lagi”, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Semoga Allah memudahkan kebaikan bagimu dimanapun engkau berada”.


7. Disunnahkan menentukan ketua rombongan untuk memimpin dalam perjalanan, sebagaimana hadits Said dan Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhuma- riwayat Abu Daud dengan sanad yang Hasan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا خَرَجَ ثَلاَثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ

“Jika tiga orang sedang safar, maka hendaklah mereka menentukan ketua rombongan”.


8. Hendaknya membaca do’a safar ketika di atas kendaraan, sebagaimana yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat Muslim :

اللهُ أَكْبَرُ, اللهُ أَكْبَرُ, اللهُ أَكْبَرُ, (سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَـهُ مُقْرِنِيْنَ. وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ) الَلَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا البِرَّ وَالتَّقْوَى ،وَمِنَ العَمَلِ مَا تَرْضَى ، الَلَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، الَلَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيْفَةُ فِيْ الأَهْلِ ، الَلَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوْءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالأَهْلِ

“Allah Maha Besar (3X). Maha Suci Rabb yang menundukkan kendaraan ini untuk kami, sedangkan sebelumnya kami tidak mampu. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami (di hari Kiamat). Ya Allah, Sesungguhnya kami memohon kebaikan dan taqwa dalam perjalanan ini, kami memohon perbuatan yang engkau ridhai. Ya Allah, Permudahlah perjalanan kami ini, dan dekatkanlah jaraknya bagi kami. Ya Allah, Engkau-lah teman dalam bepergian dan yang mengurusi keluargaku. Ya Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelelahan dalam bepergian, pemandangan yang menyedihkan dan perubahan yang jelek dalam harta dan keluarga”.


Apabila kembali dari safar maka do’a di atas dibaca dan ditambah :

آيِبُوْنَ تَائِبُوْنَ عَابِدُوْنَ لِرَبِّنَا  حَامِدُوْنَ

“Kami kembali dengan bertobat, tetap beribadah dan selalu memuji kepada Rabb kami”.


9. Bagi setiap orang yang sedang safar disunnahkan membaca doa yang diriwayatkan al-Bukhari berikut ini ketika menjelang shubuh :

سَمَّعَ سَامِعٌ بِحَمْدِ اللهِ وَ حُسْنِ بَلاَئِهِ عَلَيْنَا ، رَبَّنَا صَاحِبْناَ ، وَ أَفْضِلْ عَلَيْنَا عَائِذاً بِاللهِ مِنَ النَّارَِ

“Semoga ada yang mendengarkan pujian kami kepada Allah (atas nikmat) dan cobaan-Nya yang baik bagi kami. Wahai Rabb kami, dampingilah kami (peliharalah kami) dan berilah karunia kepada kami dengan berlindung kepada Allah dari api neraka”.


10. Disunnahkan bagi musafir untuk bertakbir ketika jalan menanjak dan bertasbih jika jalan menurun tanpa mengangkat suara, sebagaimana hadits Jabir -radhiyallahu’anhu- riwayat al-Bukhari, ia berkata :

كُنَّا إِذَا صَعِدْنَا كَبَّرْنَا وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا

“Dahulu kami bertakbir jika tanjakan, dan jika turunan kami bertasbih”.


Dalam hadits Abu Musa al-Asy’ari -radhiyallahu’anhu- riwayat al-Bukhari, ia berkata :

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكُنَّا إِذَا أَشْرَفْنَا عَلَى وَادٍ هَلَّلْنَا وَكَبَّرْنَا ارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُنَا. فَقَال النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَرْبِعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، فَإِنَّكُمْ لاَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا، إِنَّهُ مَعَكُمْ سَمِيعٌ قَرِيبٌ

Dahulu ketika kami safar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mendapat lembah, kamipun bertahlil dan bertakbir seraya mengangkat suara, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “wahai sekalian manusia, sayangilah diri kalian, sesungguhnya kalian tidak berdo’a kepada zat yang tuli lagi jauh, sesungguhnya Dialah zat yang maha mendengar lagi maha dekat”.


11. Disunnahkan berdo’a jika memasuki suatu daerah atau rumah, sebagaimana hadits Shuhaib -radhiyallahu’anhu- riwayat al-Nasa’i dengan sanad yang Hasan, bahwa tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki suatu daerah atau mau memasukinya kecuali beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a

اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَوَاتِ السَّبْعِ وَمَا أَظْلَلْنَ وَرَبَّ الأَْرَضِينَ السَّبْعِ وَمَا أَقْلَلْنَ وَرَبَّ الشَّيَاطِينِ وَمَا أَضْلَلْنَ وَرَبَّ الرِّيَاحِ وَمَا أَذْرَيْنَ، فَإِنَّا نَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذِهِ الْقَرْيَةِ وَخَيْرَ أَهْلِهَا. وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ أَهْلِهَا وَشَرِّ مَا فِيهَا

“Ya Allah, penguasa tujuh lapis langit dan segala yang dinaunginya, Penguasa bumi dan apa yang lebih kecil darinya, Penguasa Syaitan dan segala yang disesatkan, Penguasa angin dan segala yang diterbangkan, aku memohon kepada-Mu kebaikan kampung ini, kebaikan penduduknya serta kebaikan apa yang terdapat di dalamnya dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan penduduknya serta segala apa yang terdapat di dalamnya”.


12. Apabila singgah di suatu rumah/tempat/kota hendaknya orang yang sedang bersafar mengucapkan do’a dari riwayat Muslim berikut :

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

“Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna secara keseluruhan dan dari kejahatan yang telah diciptakan.”


13. Hendaknya memperbanyak do’a ketika safar karena safar adalah momen do’a mustajab, sebagaimana hadits Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu- riwayat al-Tirmidzi dengan sanad yang Hasan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ

“Tiga do’a yang mustajab; do’anya orang yang terdzalimi, do’a musafir, dan do’a seorang bapak untuk anaknya”.


14. Disunnahkan bagi musafir segera kembali jika urusannya telah selesai, sebagaimana hadits Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu- yang Muttafaqun ‘alaihi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ، يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ نَوْمَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ، فَإِذَا قَضَى أَحَدُكُمْ نَهْمَتَهُ فَلْيُعَجِّل إِلَى أَهْلِهِ

“Safar adalah bagian dari adzab, dimana tidur, makan, dan minum kalian terganggu. Oleh karenanya, jika urusan kalian telah selesai, maka segeralah kembali ke keluarganya”.


15. Disunnahkan datang siang hari dan dimakruhkan datang tengah malam, sebagaimana hadits Anas -radhiyallahu’anhu- riwayat al-Bukhari, ia berkata :

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَطْرُقُ أَهْلَهُ وَكَانَ لاَ يَدْخُل إِلاَّ غُدْوَةً أَوْ عَشِيَّةً

“Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mendatangi keluarganya (malam hari), dan beliau tidak mendatanginya kecuali pagi atau sore hari.”

Demikian beberapa adab-adab dalam safar sebagaimana yang dituntunkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga kita bisa menjadi ummat beliau yang senantiasa menghidupkan sunnah-sunnahnya dimana pun kita berada.[]

Oleh Ustadz Ayyub Soebandi, Lc. (Anggota Dewan Syariah Wahdah Islamiyah)

Baca Juga  Laris Sepanjang Masa

Silakan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here